Ternyata! Ada 3 Sifat Kaum Jahiliyah yang Patut Kita Teladani

gambar : seputar-hijrah
Banyak dari kita rata-rata umat muslim menganggap bahwa kehidupan jahiliyah adalah kehidupan yang mengesampingkan moral, salah paham, dan kehidupan yang tidak layak. Akan tetapi kita tidak pernah menauladani dan tidak penah membaca lebih lanjut tentang perilaku orang-orang di zaman jahiliyah terlebih dahulu.

Mungkin kita sudah terlanjur salah ajar. Sehingga terbentuklah kesalah-pahaman tentang kondisi masyarakat jahiliyah. Fragmen kehidupan jahiliyah yang disajikan kepada kita adalah tentang kebodohan, pembunuhan anak perempuan, perbudakan, tanpa ada babak lain. Dari penggambaran yang tidak utuh inilah pemahaman kita terbentuk. Kemudian nalar kita pun tertidur, kita tidak mempertanyakan mengapa Allah memilih tanah Arab dan bangsa Arab sebagai pionir menyebarkan misi rahmatan lil ‘alamin.

Padahal disisi lain Allah memilih bangsa Arab untuk dijadikan pionir dalam penyebaran islam rahmatallil ‘alamin, karena memang di zaman jahiliyah banyak perilaku orang arab yang tidak kita ketahui. Di dalam hadits riwayat bukhari muslim dijelaskan bahwa:

” Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail. Memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Memilih Hasyim dari keturunan Quraisy. Dan memilihku dari Bani Hasyim.” (HR. Muslim 7/58 dan selainnya).

Allah pilih suku bangsa Arab (keturunan Ismail) dibanding suku bangsa lainnya di muka bumi ini. Kemudian memilih lagi yang terbaik dari yang terbaik di antara mereka, Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sekiranya perihal akhlak yang dimiliki bangsa arab terdahulu, kita perlu untuk mengkaji serta mencontoh untuk dijadikan pejaran, bahwa bangsa arab pada zaman jahiliyah juga memiliki sifat yang bagus dan bahkan bisa dicontoh, seperti :

1. Mereka memahami kebersamaan dan keberagaman hidup dengan cara saling berbagi. Hal ini dijelaskan dalam sebuah syair yang sudah digubah oleh Hatim At-thai sebagai berikut :

(syair sudah diterjemahkan)

” Apiku dan api tetanggaku adalah satu, Aku menyediakan teko untuknya
Tidaklah merugikanku tetangga di sebelahku, Tak seharusnya ada penutup di pintunya ”

Demikian menjelaskan bahwa segala sesuatu yang dilakukan mereka adalah bergantian dan bahkan tidak segan-segan untuk saling berbagi, maka patutnya kita meneladaninya.

2. Mereka menghargai kehormatan orang yang sudah berkeluarga. Hatim At-thai juga sudah menjelaskan dalam syairnya, pada saat itu ada suami istri yang suaminya meninggalkan istrinya untuk bersafar, maka Hatim berbicara :

“ Tetanggaku tidak mengeluhkanku. Melainkan apabila suaminya pergi, aku tak lagi mengunjunginya. Kebaikanku akan sampai padanya kala suaminya kembali padanya. Aku tidak merusak tabir pembatasnya ”.

Ini menunjukkan bahwa sikap toleransi dan saling menghargai sudah ada sejak zaman jahiliyah. Dan ini juga sesuai dengan panji-panji keilmuan umat islam, Rasulullah SAW bersabda :

“ Janganlah salah seorang di antara kalian berdua-duaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya.” (HR. Ahmad 1: 18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, para perowinya tsiqoh sesuai syarat Bukhari-Muslim).

Sangat kontras sekali dengan keadaan suami istri zaman sekarang, Masya Allah... Ketika sekarang banyak sekali istri-istri yang suka pamer ketika suaminya pergi dan sebaliknya, padahal ini tidak diajarkan dalam islam.

3. Saat berkunjung kerumah tetangga, mereka sangat memperhatikan adab dengan cara berdiri disamping pintu bukan didepan pintu tuan rumah. Dengan alasan bahwa mereka saling menutupi aib tetangganya. Karena apabila berdiri didepan pintu, maka kejadian di dalam rumah akan terlihat semua dan orang-orang jahiliyah tidak menyukai apabila ada aib tetangga yang dilihat, sungguh mulia sekali bukan?

Pelajaran yang bisa kita ambil dalam menauladani tiga akhlak terpuji orang-orang jahiliyah pada waktu itu, yaitu agar membuat kita lebih menghargai dan bertoleransi, sehingga bisa membangun keluarga yang harmonis dan juga menjalin kerukunan antar umat.

Oleh sebab itu, pantasnya kita sebagai muslim yang taat serta sudah digaris tuhan melalui ayat-ayatnya, kita mampu memberikan contoh yang lebih dari ketiga contoh akhlak terpuji yang dimiliki kaum jahiliyah tersebut. Semoga kita bisa mencapai kategori islam rahmatallil ‘alamin, baik dimata manusia maupun dimata sang pencipta alam, Amiiin.
Oleh : Lukman. M  /  Arbamedia
Sumber : kisahmuslim.com
Syair: Majalah al-Ustadz oleh Abdullah an-Nadim

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel