Sepucuk Surat Ini Bikin Sungai Nil Mengalir Deras

Gambar: shortday
Surat Umar bin Khattab kepada sungai Nil sempat membuat tradisi syirik menghilang dari peredaran kota Mesir kala itu. Masa kejayaan Islam semasa khalifah Umar memimpin, banyak sekali kemenangan yang diperoleh -wilayah penyebaran Islam pun semakin bertambah. Seiring bertambahnya perluasan wilayah, membuat Sang pemimpin mengirim setiap utusan guna mempermudah dalam pengaturan, serta bertujuan agar ajaran Islam lebih cepat tersebar ke seluruh pelosok wilayah tersebut.  Maka Umar r.a mengutus sahabat Amr bin Ash sebagai Amir / gubernur di Mesir.

Mesir menjadi ladang pengungkap tradisi kuno mengenai sungai Nil yang dikenal panjang itu. Sebagian masyarakat di dekat sungai menaruh harapan besar terhadap kelancaran aliran sungai, guna mencukupi kebutuhan mereka sehari – hari. Suatu ketika sungai Nil tak lagi mau mengalir seperti biasanya, sembari masyarakat di sekitarnya pun mulai mengeluh kepada Sang Amir daerah setempat. Menurut adat kebiasaan di Mesir, terhambatnya aliran sungai Nil mendorong mereka melakukan ritual cukup mengerikan. 

Dalam ritual tersebut, dimana mereka akan mengorbankan gadis perawan sebagai tumbal, dengan harapan agar sungai Nil dapat mengalir kembali. Tapi kali ini sang Amir melarangnya, karena tradisi itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Berdasarkan riwayat dikeluarkan oleh Hafidz Abu Qasih al lalikai, sebagaimana dalam kitab Sunah dari Qais bin Hajaj r.a dari orang yang bercerita kepadanya, katanya : Semasa dibukanya Mesir, maka datang penduduk Mesir kepada Amr bin Ash r.a. Saat itu beliau masuk kota Buhnah dari bulan Ajam, kemudian mereka ( para penduduk Mesir) seraya berkata : “ Wahai Amirul Mu’minin…! Sesungguhnya sungai Nil kami biasanya tidak mau mengalir kecuali pada tahun itu saja. ”

Kemudian Sahabat Amr bertanya : “ Kenapa..? ” Jawab mereka : “ Pada malam tanggal 12 bulan ini, kami sengaja mencari seorang perawan yang masih memiliki kedua orang tua, kemudian kami akan meminta izin kepada mereka dan kami memberikan kepadanya perhiasan serta pakaian yang paling bagus, lalu kita jatuhkan ia ( gadis perawan tersebut ) ke dalam sungai Nil. ”

Amr bin Ash r.a pun menyanggah perkataan mereka : “ Sesungguhnya demikian itu tidak terdapat dalam ajaran Islam dan Islam tidak akan mengubah sesuatu sebelumnya ‘’. Setelah ucapan Amr r.a tersebut, maka mereka berdiri dan tetap saja sungai Nil kondisinya belum mengalir juga, sampai membuat mereka merasa kesusahan. Akhirnya Sang Amir pun menulis sebuah surat untuk mengadukan kepada Khalifah Umar bin Khattab mengenai permasalahan tersebut. 

Kemudian khalifah menjawab surat Amr, dengan perkataan : “ Sesungguhnya telah menimpamu sesuatu yang kamu kerjakan. Sungguh aku telah mengutusmu dengan kertas kecil yang aku masukkan ke dalam suratku, maka jatuhkanlah kertas itu ke sungai Nil. ”
Ini artinya khalifah Umar r.a telah memberikan jawaban akan masalah yang dihadapi oleh penduduk Mesir melalui Amir-nya, supaya membuang surat kecil yang dimaksud sang khalifah tadi -ke dalam sungai Nil. Tapi sebelum surat tersebut dibuangnya, Amr bin Ash sempat membacanya terlebih dahulu. Ternyata kertas itu berisikan kalimat ditujukan untuk sungai Nil,  sebagai berikut :

“ Dari hamba Allah, Umar bin Khathtab. Kepada sungai Nil di Mesir, amma ba'du :  Wahai Nil, Jikalau sebelumnya kamu mengalir karena kehendakmu sendiri, maka janganlah mengalir. Namun jika engkau mengalir karena kehendak Allah SWT, maka kami memohon kepada Allah yang Maha Esa & Maha Perkasa untuk membuatmu mengalir. ”
Gambar: justfunfacts
Setelah sahabat Amr bin Ash membaca sepucuk surat itu, maka langsung saja dia melemparkannya ke arah sungai Nil sesuai perintah sang khalifah. Menurut riwayat lain sebagaimana dalam Tafsir Ibnu Katsir ( juz 3 : 464 ) dikatakan “ Maka jatuhlah kertas itu di dalam sungai Nil ”.  Pada hari Sabtu pagi, maka Allah SWT telah mengalirkan sungai Nil setinggi 16 Dzira’ ( setara dengan 7,2 meter ). Berawal dari situ, maka hilanglah pula tradisi pengorbanan tumbal ( yang dilakukan penduduk  Mesir ) sampai sekarang. 

Allah SWT benar – benar murka terhadap perilaku kesyirikan yang dilakukan oleh setiap hambanya. Sebaliknya, Sang pencipta alam akan selalu menolong kesusahan hambanya, selagi ia mau meminta kepada-Nya -tanpa mencampuradukkan antara keburukan dengan kebaikan. 
Ditulis Oleh: Arbamedia  /  Ar. M
Artikel Terkait