Inilah Pelajaran Paling Berharga di balik Permainan Petak Umpet

image: nyoozee
Dunia anak kecil adalah dunia bermain. Di kampung-kampung permainan ini masih melekat di laku anak-anak, Mereka meriwayatkan hari-harinya dengan bermain bersama. Pola permainannya pun beragam dan unik-unik, mereka pun bemain di alam. Menyentuh tanah, bergabung dengan air, dan berbagai ketangkasan berada dalam permainannya. Bermain sambil belajar, itulah gaya anak-anak. Sementara yang dewasa bermain di dalam ruangan, bahkan enggan bermain lagi. Kita sempat melupakan konsep Ki Hajar Dewantara sebagai bapak Pendidikan, “Semua tempat adalah sekolah, dan semua orang adalah Guru” demikian kata Ki Hajar.

Kita pastinya mengenal permainan ini, permainan petak umpet. Tidak sekedar permainan tetapi pendidikan bagi si anak. Dengan pola permainan, lebih awal berkumpul bersama bahkan bisa dilakukan hanya dengan 2 orang. Kita mengambil perumpamaan 5 orang, pertama-tama mereka akan melakukan hom pim pa terlebih dahulu, bagi yang baru ikut melakukan permainan ini, proses alamiah anak akan mengajarkan temannya agar lekas tau, diberi tahu, sambil dipraktekkan. Ada proses komunikasi di dalamnya, sangat dekat antara teori dan praktek. 

Terlebih dahulu lagi, anak-anak akan membuat lingkaran, masing-masing mengulur dan menumpukkan tangan. Kenapa anak kecil sangat dekat dan sangat gampang akrab?, dikarenakan mereka bersentuhan, sentuhan-demi sentuhan membuat mereka dekat dan lekat. Refleks dengan nada yang beragam, tangan-tangan yang tertumpuk tadi di dalam lingkaran sembari di goyang-goyangkan. Seperti gelombang yang naik-turun, mengikuti mantra ‘’Hom pim pa alai hom gambreng’’,. Tangan-tangan itu akan lekas terbolak-balik sesuai dengan keinginan, jika yang terpilih sebagai contoh 3 besar orang yang menunjukkan punggung tangan, maka yang memilih telapak tangan akan kembali beradu. Dasar permainan hom pim pa  ini mengajarkan kepada anak untuk menerima kesepakatan.

Dua orang yang memilih telapak tangan akan kembali beradu, bukan hom pim pa lagi, tetapi pus pus. Simbol gunting pada jari tangan akan menggunting kertas, jika ada 5 jari teman melebar, berarti pemenangnya yang memilih gunting. sementara tangan yang digenggam berarti simbol batu, akan dikalahkan oleh kertas, sebab kertas bisa membungkus batu. Gunting akan kalah dengan batu, sebab gunting tak kan bisa menggunting batu. Ada obrolan dalam permainan ini, yang baru melakukan permainan ini sesama anak kecil akan melakukan logika-logika sederhana, sebagaimana yang disebutkan di atas. Yang kalah dalam permainan ini, maka akan menjadi “jadinya” atau si pencari.

Tanpa menunggu lama, yang “jadi” akan menghitung 1-10 dengan menutup mata sambil bersandar ke tembok. Tiang rumah atau pohon sebagai keabsahan jika si “pencari” benar-benar tidak melihat keempat temannya yang akan bersembunyi. Dengan girang, mereka berlari-lari setelah itu diam senyap. Permainan ini melahirkan sikap gentleman, menyepakati aturan permainan dan bertanggung jawab. 

Yang “jadi”, setelah hitungan genap sampai 10 kemudian berbalik dia tidak akan melihat temannya lagi, di sinilah puncak permainan di mulai. Teman-temannya telah bersembunyi di suatu tempat, Yang “jadi” akan mengalami sedikit tekanan psikologi, belajar kehilangan, Dari yang ada tiba-tiba menghilang, dari yang ramai tiba-tiba sunyi. Keadaannya kini sendiri, dia akan berjalan dengan hati-hati. Jika tanpa diketahui, Ada satu teman yang berhasil menyentuh teman yang ‘’jadi’’, maka ia akan kembali menjadi “jadinya”. Dalam kehilangan, ada ke hati-hatian, ada tanggung jawab, ada gejolak juga ada fokus. Sungguh menarik sekali .. ..

Dalam pencaharian, di seputaran rumah atau di lingkungan kampung pencaharian, yang “jadi” akan berjalan terbata-bata, hati-hati sejenak akan mengambil jarak di setiap suara yang dianggapnya mencurigakan. Anak-anak belajar taktik serta sigap. Bagi yang ditemukan sebagai contoh “temu Rina”, untuk pertama kalinya biasanya si Rina tetap melakukan upaya untuk menyentuh yang “jadi”. Bahkan dalam kelihaian, biasanya yang dicari secara spontan melakukan kerjasama, Rina terus melakukan pengalihan berharap yang “jadi” kepalang kabut. Jika suasana terus riuh dan si “jadi” tak sigap, maka yang lainnya akan bermunculan berupaya menyentuh, agar si “jadi” kembali menjadi “jadinya” atau bertugas mencari kembali. Menyentuh si ”jadi”merupakan sebuah kemenangan, meski hanya satu orang yang berhasil, namun akan menjadi kemenangan bersama. Bila si pencari berhasil tanpa sentuhan, maka Rina lah penggantinya.

Permainan ini bernilai sangat positif bagi anak, latihan mental, latihan ketangguhan, serta belajar kehilangan meski ada. Esok hari saat mereka kehilangan, mereka tak lantas menjadi manusia-manusia yang gampang rapuh, sebab mentalnya telah diasah dari permainan petak umpet. Sayangnya sebagian orang tua akan risih dengan permainan anak-anak ini, menganggap permainan ini membuat riuh dalam rumah atau lingkungan. 

Terlebih lagi anak-anak dimarahi, diminta untuk berhenti bermain, karena dianggap mengganggu ketenangan. Secara logika, Orang tua yang demikian secara tak langsung ikut andil menghentikan proses belajar si anak. Namun, Alangkah lebih bahagianya melihat anak-anak aktif bermain sambil belajar, dari pada melihat mereka terbaring karena sakit. Biarkan mereka bermain sambil belajar, berkreasi, selama dalam kondisi lingkungan yang terjaga, serta waktu yang terkontrol.

Penulis : Acca / Arbamedia
Artikel Terkait