Tangisan Umar Bin Khattab Terhadap Kemewahan Dunia

Gambar: umdah
Dunia bersama kemewahannya terkadang jadi benalu keimanan, selain dapat memberikan keberkahan kepada setiap orang. Ketika manusia memiliki kecintaan berlebih akan harta dunia, maka perkara demikian akan jadi penyebab mereka lupa diri sehingga menimbulkan sebuah permusuhan. Oleh karena itulah Sahabat Umar bin Khattab r.a merupakan satu sosok hamba tauladan yang cukup hati – hati bila berhadapan dengan perkara duniawi. Apalagi bila tiba saatnya kemewahan harta itu berada di depannya, beliau segera mengambil langkah bijak supaya tidak menjadikannya tergiur, karena harta mampu membuatnya lupa mengenai apa yang menjadi tugas – tugasnya sebagai khalifah kala itu.

Tangisan pun melanda beliau disaat menerima harta melimpah dari hasil kemenangan setelah kaum muslimin melewati masa – masa peperangan melawan kerajaan Persia dibawah pimpinan Panglima Rustum. Sedangkan khalifah Umar bin Khattab mengutus sahabat Sa’ad bin Abi Waqash sebagai panglima besar kaum muslimin. Berdasarkan sebuah riwayat dikeluarkan oleh Imam Baihaqi dari Al Mansur bin Makhromah r.a, katanya : “ Harta rampasan berasal dari perang Qodisiah telah tiba dihadapan Umar bin khattab. Melihat kedatangan harta berjumlah banyak tersebut, Maka Umar r.a melihat ke arah harta itu sembari sambil menangis. Turut bersamanya pula Abdul Rahman bin Auf r.a.”

Kemudian sahabat Abdul Rahman bertanya kepadanya ( Umar bin Khattab ) : “ Wahai Amirul mukminin, Hari ini merupakan waktunya untuk bergembira dan bersuka ria ”. Jawab Umar r.a : “ Memang benar, Tapi tidaklah suatu kaum itu diberikan banyak harta melainkan ia mewariskan permusuhan dan kebencian sesama mereka ”. Riwayat demikian juga dikeluarkan oleh Al-Kharaidh dari Al – Manshur dengan lafadz serupa sebagaimana dalam Al – khanz.

Dari apa yang diungkapkan oleh Amirul Mukminin, kita tentu bisa mengambil titik bidik, terutama telah terdapatnya dua perkara buruk akibat kelalaian manusia disebabkan oleh kemewahan dunia, yaitu :

- Menyebabkan Permusuhan
Benarkah gemerlapnya dunia mampu menyebabkan permusuhan…? Ketika banyak harta, kemudian sanggup menggunakannya ke jalan yang benar, maka harta itu sanggup menuai keberkahan. Sebaliknya, kalau manusia terus menerus terbujuk akan indahnya kemewahan dunia, sampai hati serta pikiran mereka dibutakan akan hal itu, tentu masalah halal atau haram tidak dipedulikan lagi bukan..? Sehingga berbagai cara dianggap boleh, akhirnya membuat manusia saling memperebutkan kemewahan itu. Sampai disitulah akan terjadi sebuah permusuhan tiada henti. 

- Penyebab Kebencian
Siapa sangka bahwa butiran emas, berlian, jabatan tinggi maupun kemewahan hidup dapat membuahkan tangisan kebencian antar sesama manusia. Namun semuanya itu juga dapat membentuk sebuah kesejahteraan umat apabila hasrat untuk mengejar kemewahan dunia dapat dikendalikan dengan cara membelanjakannya di jalan yang dibenarkan. Seperti pada masa Rasulullah SAW, dimana beliau cukup bergembira ketika mendapat kemenangan dan harta jarahan usai berperang melawan kaum yang membelot dari ajaran syariat Islam, karena nantinya harta itu dapat dibelanjakan di jalan Allah SWT, kemudian dibagi – bagikan kepada orang yang benar – benar membutuhkannya seperti fakir miskin. 

Suri tauladan demikian juga tak lepas dikiprahkan oleh sayidina Umar bin Khattab, tatkala menerima gelang Kisra dari harta rampasan perang. Telah diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari Alhasan bahwasanya Umar bin Khattab r.a telah menerima harta Kisra, kemudian semua harta itu diletakkan di hadapan beliau, Disitu pula juga ada Suraqah bin Malik bin Ja’sam r.a. Kemudian Sahabat Umar r.a pun mengambil gelang Kisra itu, lalu mencampakkan gelang tersebut dihadapan Suraqah, kemudian Suraqah mengambilnya dan memakainya. Ketika ia mengenakannya gelang itu, maka mampu memenuhi tangannya hingga ke bawah bahunya. Sahabat Umar pun melihatnya, kemudian berkata “ Segala puji bagi Allah SWT, Gelang Kisra bin Hurmus berada di tangan Suraqah bin Malik bin Ja’sam, Seorang Arab dusun dari Bani Mudlij ”.

Selanjutnya Suraqah pun mengungkapkan sebuah kalimat yang intinya beliau memuji Umar.ra dengan ucapan : “ Walau Bagaimana pun Engkau telah memeliharanya dengan mengalihkan pandangan beliau dari merasa takjub dengan harta itu dan memberikan kebaikan kepadanya. Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari menjadikan ini sebagai tipu daya dari-Mu kepada Umar ”.

Perlu diketahui bahwa gelang Kisra ini merupakan gelang kebesaran / kebanggaan raja Persia. Namun ketika kemewahan tersebut sudah dihadapan sahabat Umar r.a,  Beliau tak memiliki rasa takjub akan hal itu. Beliau merasa lebih baik melimpahkannya kepada orang lain, sehingga kemewahan harta sekalipun tak mampu membuat goyah keimanannya.

Tangisan Umar bin Khattab juga pernah diceritakan dalam hadits hasan, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Al Bazar dan Abu Ya’la dari Abu Sinan Ad Dauli. Dimana dalam riwayat itu dapat dijelaskan bahwa  Umar bin Khattab menangis seusai merebut kembali cincin yang dibawa oleh seorang anak. Dimana cincin itu termasuk benda yang selama ini dicari oleh beliau ketika memerintahkan seseorang untuk membawa kepadanya sebuah wadah berisikan wangi –wangian di dalamnya, menyerupai barang milik kaum wanita. Benda tersebut berasal dari Iraq. 

Tangisan Umar r.a pun membuat orang berada didekat beliau bertanya : “ Mengapa engkau menangis..? Sedangkan Allah SWT telah memberikan kemenangan kepadamu dari musuh – musuhmu kemudian Allah telah menyejukkan mata engkau. Sembari Umar r.a menjawab “ Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda : Tidaklah dunia itu dibukakan kepada seseorang, melainkan Allah mencampakkan di kalangan mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat, dan aku sangat takut kepada-Nya”. ( Rujukan Hadist dalam At – Targhib )

Semoga dari kisah diatas, kita sebagai umat Islam setidaknya mampu mengendalikan diri terhadap kelalaian yang disebabkan oleh kemewahan duniawi. Ingatlah, harta bisa jadi ujian bagi kita semua, sebaliknya dapat pula menjadi kebaikan ketika kita mampu mempergunakannya sesuai tuntunan syariat. 
Ditulis Oleh : Arbamedia  /  Rah. W
Artikel Terkait