Setungku Roti dan Daging Ini Tak Pernah Habis Dimakan Ratusan Sahabat Rasulullah

Gambar: rosinalive
Memberikan jamuan makan terhadap sahabat – sahabat Nabi SAW yang kelaparan memang tidak luput diterapkan bagi setiap orang yang memiliki sedikit rezeki. Karena para sahabat terdahulu gemar sekali membudayakan kebiasaan saling membantu sama lain, tidak lupa bersedekah, serta senantiasa ikut merasa prihatin jika terdapat saudara mereka yang ditimpa musibah.  Tertancapnya sifat / perilaku terpuji ini dalam hati mereka berasal dari suri tauladan Rasulullah, yang selalu mencontohkan sifat kepedulian terhadap sesama manusia. 

Memiliki kelebihan harta dunia tidak berarti kita menggunakannya demi kepentingan ambisi pribadi, tapi sebaiknya kita kembali apa yang dicontohkan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya. Selalu membelanjakan harta untuk menegakkan agama Allah merupakan bukti konkrit yang Nabi dan para sahabat telah lakukan. Bahkan, terdapat sebuah perilaku menakjubkan ketika seorang sahabat Nabi mencoba membagi – bagikan makanan kepada para sahabat lainnya yang tengah menggali parit pada perang Khandak. Padahal jumlah makanan itu tak seberapa, dan jika disuguhkan kepada mereka semua secara kasat mata tidaklah mencukupi. Tapi ajaibnya, ternyata jamuan makanan itu mampu membuat mereka kenyang.  Anehnya masih terdapat banyak jumlah sisa makanan, meski sudah dihidangkan oleh ratusan para sahabat Nabi SAW. 

Awalnya kisah mengejutkan tersebut terjadi ketika perang Khandak, dan para sahabat tengah menggali parit. Di tengah – tengah penggalian, mereka mendapati sebuah batu besar melintang. Karena sebab itulah, para sahabat kemudian mendatangi Rasulullah SAW untuk menyampaikan masalah demikian. Kemudian Rasulullah SAW pun segera bangun dari tempatnya, beranjak ke penggalian parit guna mengatasi batu penghalang tersebut. Saat itu, Rasulullah dalam keadaan perutnya terikat sebuah batu karena untuk menghalau rasa laparnya. Dalam keadaan kelaparan, baginda Rasul pun mengambil sebilah kapak besar sehingga beliau membelah batu besar itu sampai berhamburan seperti pasir. 

Sahabat Jabir r.a pun mengetahui mengenai batu yang menyelip di perut Rasulullah SAW untuk mengendalikan rasa lapar beliau, Kemudian ia pun menemui Nabi SAW dan meminta izin pulang kepada beliau “ Ya Rasulullah, izinkanlah aku pulang ke rumah. ” Setibanya di rumah, ia menanyakan kepada istrinya : “ Aku telah melihat sesuatu ( sebuah batu pada perut nabi. SAW ) pada diri Rasulullah dan aku sudah tidak sabar untuk melihat beliau lagi. Apakah kamu memiliki makanan…?.” Sembari istrinya pun menjawab kepada Jabir ( suaminya ) : “ Aku mempunyai tepung syair dan seekor anak kambing betina ( belum cukup usianya ). ”

Dari situ Sahabat Jabir pun berencana untuk menyembelih anak kambing tersebut, sementara istrinya menggiling tepung. Mereka berdua berencana menjamu Rasulullah untuk makan bersama. Seusai anak kambing disembelih, lalu dimasukkan ke dalam periuk yang terbuat dari tanah liat, sedangkan tepung itu dibuat menjadi adonan roti yang diletakkan dalam sebuah tungku. Setelah daging dan roti sudah siap dihidangkan, lalu sahabat Jabir pun menemui Rasulullah, kemudian berkata kepada beliau “ Aku memiliki sedikit makanan, Maka bangunlah wahai Rasulullah..!, kemudian ajaklah seorang atau dua lelaki yang lain untuk menemani engkau. ”

Sembari Rasulullah bertanya kepada Jabir :” Berapa banyak makanan itu..? lalu ia pun menyebutkan jumlah makanan yang usai dimasaknya. Lalu Rasulullah bersabda : “ Itu cukup banyak dan baik. Katakanlah kepada istrimu, janganlah memindahkan periuk dan roti itu dari tungku sampai aku datang.” Selanjutnya Baginda SAW bersabda kepada para sahabatnya : “ Bangkitlah Kalian ”,Para sahabat Muhajirin dan Anshar pun bangkit.

Tatkala Jabir menemui istrinya, ia berkata “ Celakalah kamu, Rasulullah SAW telah datang bersama orang – orang Muhajirin, Anshar, dan yang lainnya. ” Menurut hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari versi lain begitu pula Imam Baihaqi, bahwa Sahabat Jabir berkata kepada istrinya “ Kali ini kekuranganmu akan tersingkap..!, Rasulullah datang kepadamu dengan semua orang yang turut menggali parit.” Berdasarkan hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah secara lebih terperinci menjelaskan, bahwa jumlah sahabat yang menghadiri jamuan makanan itu sebanyak 800 orang, dia juga mengatakan berjumlah 300 orang. 

Istri Jabir pun bertanya kepada suaminya : ” Apakah Baginda telah bertanya kepadamu tentang jumlah makanan kita..? “ Jabir menjawab : “ Ya”. Ditambahkan pula dalam riwayat lain bahwa istrinya berkata : “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. ”

Rasulullah bersama para sahabatnya pun telah sampai di rumah Sahabat Jabir r.a, lalu bersabda kepada para sahabat yang datang : “ Masuklah kalian dan jangan berdesak – desakan.” Lalu beliau mulai memotong roti dan menaruh daging di atasnya. Beliau menutup periuk dan tungku roti sesudah mengambil yang ada di dalamnya.  Setelah itu, baginda pun menghidangkannya di depan para sahabatnya lantas mengambil daging dari periuk tersebut. Baginda terus mengambil roti dan menciduk daging, sampai para sahabat yang berada di jamuan makan merasa kenyang dan makanan itu masih tersisa. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepada istri Jabir : “ Makanlah ini dan hadiahkanlah kepada tetangga, karena orang – orang telah ditimpa kelaparan.” Dalam riwayat lain juga menjelaskan, setelah apa yang disabdakan oleh Rasulullah kepada istri Jabir itu, maka istri sahabat Nabi tersebut terus menerus makan, dan menghadiahkan makanan kepada orang banyak pada hari itu. 

Disini mungkin menjadi hal yang cukup mustahil bagi kita yang mempunyai akal pikiran, bila makanan dengan jumlah demikian mampu mengenyangkan semua para sahabat berjumlah ratusan, bahkan masih banyak pula sisa makanan itu. Tapi perlu kita ingat, bahwa tidak ada kata “ Mustahil ” bagi Allah SWT jika Dia yang Maha Perkasa menghendakinya. Hikmah yang dapat kita ambil yaitu janganlah merasa ragu untuk menolong sesama, membagi-bagikan rizki kepada orang yang kelaparan, meski harta yang kita miliki tak seberapa jumlahnya. Jika Allah SWT berkehendak, bisa saja kita dilimpahkan banyak harta serta kemewahan dunia. Sementara di sisi lain Allah juga sayang kepada kita semua, karena tidak menghendaki hamba yang disayangi-Nya lupa diri. Maka ingatlah bersedekah selagi memiliki, sebelum kita semua disulitkan untuk memperoleh rizki tersebut. 
Ditulis Oleh : Arbamedia  /  Rah. W
Artikel Terkait