3 Macam Golongan Manusia Saat Memperoleh Ilmu Dari Allah

Sebagaimana zaman kegelapan yang telah menelan habis semua kebenaran. Tentu setiap insan yang masuk ke dalamnya, akan terjauhkan dari cahaya Ilahi. Namun Allah SWT berkehendak lain. Dalam sebuah kegelapan zaman, telah diturunkan Nur Muhammad sebagai seorang utusan terakhir yang mengabarkan berita gembira bagi seluruh umat di bumi. Terlebih lagi risalah berupa petunjuk dan ilmu untuk mencapai kehidupan kebahagiaan dunia akhirat. Yakni kitab suci Al-Quran dan Sunnah yang menjadi pedoman bagi umat Islam.

Berbagai jalan yang ditempuh dalam menyebarkan berita gembira ini, Baginda Rasul SAW tak memiliki rasa putus asa untuk mengajarkan ilmu kebenaran kepada setiap umat manusia, agar mereka bisa mendapatkan hidayah dari Allah SWT, serta dijauhkan dari perkara yang melanggar syariat. 

Manakala sebuah petunjuk Allah SWT sudah dikabarkan melalui Rasul-Nya, Bersamaan itu pula utusan datang memberikan ilmu kebenaran terhadap seluruh umat manusia. Lantas, bagaimanakah umat manusia menanggapi akan petunjuk dan ilmu yang telah dikabarkan ini….?

Sebagaimana yang telah diumpamakan oleh Rasulullah dalam Hadits beliau, mengenai setiap ilmu dan hidayah yang diberikan untuk membimbing mereka menuju jalan yang lurus. Ada beberapa pembagian golongan mengenai hal ini.

Telah diriwayatkan dari sahabat Abu Musa R.A, Rasulullah SAW bersabda :

 “ Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah utus aku dengannya seperti hujan lebat yang jatuh ke tanah. Di antara tanah itu ada yang baik dan subur, dapat menyerap air sehingga menumbuhkan banyak tumbuhan dan rerumputan. Dengan tanah ini, Allah Memberikan manfaat kepada manusia, sehingga mereka bisa minum, mengairi tanaman, dan bercocok tanam. Sebagian hujan ada yang jatuh ke sebidang tanah yang lain, yaitu tanah yang datar dan tandus, tidak bisa menampung air ataupun menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.

Begitulah perumpamaan orang yang paham mengenai agama Allah dan memperoleh manfaat dari ( petunjuk dan ilmu ) yang Allah utus aku dengannya, Ia tahu dan mengajarkannya. Juga perumpamaan orang yang tidak peduli dengan perkara tersebut dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus.  ”  -- (H.R. Imam Bukhari)

Dari perumpamaan yang telah disabdakan Nabi SAW tersebut, dapat dipetik kesimpulan bahwa ibarat manusia memiliki 3 macam golongan saat mereka menerima  ilmu yang diberikan oleh Allah SWT melalui utusan-Nya :

1. Golongan yang Bisa Mengambil Manfaat dan Memberi Manfaat
Manusia golongan pertama, yakni mereka bisa mengambil manfaat dari  ilmu yang telah diberikan bagi mereka, agar mereka mampu menuju jalan yang lurus dan diridhoi oleh Allah. Kemudian mereka berbondong-bondong untuk mempelajari, menghafalkan, dan mengamalkannya sehingga hati mereka menjadi hidup.  Dari hati mereka yang hidup, mereka mengajarkan dan memberikan manfaat mengenai apa yang mereka peroleh tersebut kepada orang lain. 

Umat manusia seperti ini memang tergolong orang yang berhasil dalam mendapatkan petunjuk dan ilmu dari Allah SWT. Mereka memiliki sifat seperti jenis tanah yang mampu mengambil manfaat dari air, sehingga tanah tersebut menjadi hidup. Kemudian mampu menumbuhkan tanaman yang dapat dimanfaatkan bagi makhluk Allah yang menginginkannya.

2. Golongan yang Bisa Memberi Manfaat, Namun Tidak Bisa Mengambil Manfaat
Ibarat manusia yang mampu memberikan manfaat akan ilmu yang mereka peroleh kepada orang lain, namun tak bisa memberikan manfaat sepenuhnya bagi dirinya. Yakni seperti sebidang tanah yang dialiri air namun tak bisa memberikan manfaat bagi dirinya. Sehingga tanah tersebut tak mampu hidup secara sempurna dan tanaman pun tak bisa tumbuh subur. Akan tetapi tanah itu masih bisa menampung air yang kemudian dimanfaatkan oleh makhluk-makhluk lainnya.

Manusia golongan kedua ini memang memiliki hati yang bagus, menghafalkan akan setiap ilmu yang diperoleh. Akan tetapi  mereka kurang memiliki pikiran yang cerdas dan kurangnya sungguh-sungguh dalam mengamalkannya. Sehingga para ahli ilmu yang lain datang kepada mereka untuk mengambil ilmu yang diperolehnya tadi, agar ilmu tersebut bisa bermanfaat, baik untuk dirinya (ahli ilmu tadi ) maupun orang lain. 

Jadi, golongan orang yang kedua ini tetap bisa memberikan manfaat kepada orang lain dengan ilmu yang diperoleh, meski belum mampu memberikan manfaat bagi dirinya sendiri secara keseluruhan.

3. Golongan yang Tidak Bisa  Memberi Maupun Mengambil Manfaat
Golongan orang yang ketiga ibarat seperti sebidang tanah yang gersang, tidak mampu mengambil manfaat dari air hujan, sehingga tumbuhan pun tidak bisa tumbuh. Bahkan saat air hujan turun, tanah itu tidak pula mampu menampung air, sehingga tidak bisa bermanfaat bagi setiap makhluk lain. 

Demikian pula bagi orang yang tidak bisa mengambil dan memberi manfaat dari ilmu yang mereka peroleh. Dikarenakan mereka kurang memiliki hati yang bagus dalam menghafal dan memahami ilmu tersebut. Akhirnya saat mereka mendengarkan ilmu, mereka tidak bisa mengambil manfaat dari apa yang mereka dengar. Dan tidak pula mereka mampu menghafalkan agar ilmu tersebut bisa bermanfaat bagi orang lain.  Jadi, orang-orang yang seperti ini memang tidak peduli akan ilmu yang telah dikabarkan, sehingga mereka juga ikut  terjauhkan dari petunjuk Allah SWT.

Oleh karena itu, Bagaimana pun bentuk kesulitan ilmu saat dipelajari, dihafal, maupun ketika mengamalkan dan mengajarkannya, Pastinya akan ada jalan kemudahan. Asalkan kita semua bersungguh-sungguh dalam menggapainya. Tentunya ilmu yang paling penting yaitu sebuah ilmu yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Sehingga mampu menuntun umat untuk mencapai keridhaan Sang Ilahi.
Artikel Terkait