Fakta Tentang Makhluk Gaib yang Dijelaskan dalam Al-Quran

Menjadi sebuah kebahagiaan bila menapaki kehidupan dengan jalan yang Allah beri Rahmat. Seketika perjalanan itu berubah mengharu-biru tatkala di balik kehidupan ada “kesengsaraan” makhluk lain, sebagai lakon lancarnya jalan cerita. Adalah Jin yang kehidupannya dipenuhi tanda tanya. Sejatinya mereka hidup bebarengan dengan manusia, kelebihannya mereka mampu melihat manusia sementara manusia tiada daya untuk melihatnya. Hanya mampu meraba-raba, kecuali bagi manusia yang diberikan karunia dapat menembus alamnya Jin. 

Jin jalan ceritanya termaktub di beberapa ayat Al-Quran, Sementara Surah Al - Jin sebagai penguat keberadaan mereka, juga sebagai penambal keimanan manusia. Sebab kehadirannya sebagai penjelas alam ghaib, ‘’al-lazdhina yu’minuna bil gaibi, yaitu orang-orang yang beriman kepada hal ghaib. Perjalanan manusia di dunia juga oleh karena mahkluk ghaib ini, karena bujuk rayunya. Adam bercengkerama dengan Jin, begitu pun dengan Hawa, ada cengkerama antara orang tua kita (Adam-Hawa) bersama Jin. Lantaran begitu dekatnya Adam AS dengan alam ghaib, Sama kisahnya dengan nenek moyang kita di Nusantara ini. Di daerah Jawa pada setiap bangunan-bangunan tertentu, akan kita temukan bhuto (patung jin), terpampang di pintu masuk setiap bangunan. 

Di sisi lain, Cerita nabi Sulaiman AS yang begitu akrab dengan semua makhluk juga sebagai penguat, betapa beliau mampu dekat dengan alam Jin atau dengan Jinnya langsung. Dan bila kita menyimak dari kisah nabi Muhammad SAW yang melakukan perjalanan menuju Sidratul Muntaha, tidak lepas dari usikan bangsa Jin. Pernah kita mendengar beberapa berita yang menginformasikan tentang banyaknya kesurupan masal di tiap-tiap daerah. Pastinya ada kekeliruan berpikir yang merajalela, hingga kesurupan tersebut juga merajalela. Ada salah kaprah dalam memandang dimensi lain. Bukankah Allah SWT menciptakan segala makhluk dengan kuasa-Nya?, Banyak yang tidak percaya dengan alam lain yang di dalamnya ada syaitan, Jin, Iblis, roh nenek moyang, roh para wali dan sebagainya. 

Di dalam setiap bacaan Al-Qur’an selalu diawali dengan doa “agar dijauhkan dengan syaitan”, bukankah ini telah menjadi pertanda bila mereka sangat leluasa dalam kehidupan manusia. Suatu ketika manusia ada yang tiba-tiba sakit, lumpuh, dan sebagainya, juga oleh karena ulah makhluk halus yang tidak dianggap ini. Di dalam aliran darah ada energi yang juga halus keberadaannya. Bila manusia terlena seketika, Maka energi ghaib mampu menguasai mekanisme kemanusiaan manusia. Al-Quran surat An-nas ayat ke 6 bisa menjadi renungan, Betapa dekatnya manusia dengan makhluk halus, ‘’minal jinnati wannas (dari golongan jin dan manusia). 

Ayat Al-Quran mushaf Ustmani yang setiap saat kita baca ini, Sungguh sangat dekat dengan Surah Al-Baqarah ayat ke-tiga yang menjelaskan, ‘’allazdina yu’minuna bil ghaibi : ‘’yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib. Sering kita mendengar dengan orang-orang yang kesurupan itu, hanyalah ilusinasi atau sugesti saja. Benarkah ia?, Maka jawaban-jawaban di atas perlu dipertimbangkan lagi. Bukankah Tuhan juga Ghaib ?.

Setelah surat Nuh, Al-Qur’an menjabarkan Jin di Surah ke 72 yakni Al-Jin. Ayat pertama Allah berfirman: ‘’katakanlah (Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan Jin telah mendengarkan (bacaan), lalu mereka berkata, ”kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur’an). Bisa kita bayangkan peristiwa malaikat Jibril dengan Muhammad SAW yang mendengarkan wahyu Ilahi ini. Muhammad mendengarkan dengan seksama, sebagaimana Jin terpesona dengan bacaan Al-Qur’an tersebut. Lantas Muhammad diperintahkan untuk mengatakan, ‘’Katakanlah’’ yang merupakan kalimat penyaksi. Muhammad diperintahkan untuk bersaksi (pengakuan). Mengakui keberadaan Jin, yang mana tunduk takjub akan Maha karya Ilahi yang dipenuhi hikmah yakni Al-Qur’an. 

Sekumpulan Jin, Secara berjamaah bangsa Jin mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Kemudian di ayat-ayat selanjutnya dalam surat Al-Jin akan kita temukan dialog-dialog yang akan semakin mencerahkan betapa mereka ada di sekeliling kita. Ayat ke 11: ‘’sesungguhnya di antara kami ada yang beriman dan ada juga yang kebalikannya. Sama dengan kehidupan manusia. 

Secara tidak sengaja, ayat di atas yang dipuji oleh bangsa Jin dan di “saksikan” oleh Muhammad SAW. Merupakan ayat yang menunjukkan bahwa bukan hanya Nabi Sulaiman yang dapat berdialog dengan Jin, Nabi Muhammad SAW juga demikian. Surah Jin ini seolah mengurai tirai Tuhan Semesta Alam, al-hamdulillahi rabbil alamin: Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Manusia, jin, pegunungan, tumbuh-tumbuhan, semua ciptaan dalam liputan zat Ilahi, alam Jin yang diliputi zat Ilahi, serta di alam-alam lainnya merupakan peliputan zat Ilahi. Yakni satu-satunya yang bermuara kepada satu arus yang sama berupa kalimat   “Tiada Tuhan selain Allah: Laa ilaaha illal lah”.

Oleh : Acca  /  Arbamedia
Artikel Terkait