Bahaya! Emosi yang Tercegah di Masa Kecil

image: godvine
Jika kita mengobrolkan bagaimana usia bayi dan prosesnya menjadi anak, Ada banyak hal yang harus diperhatikan utamanya bagi seorang Ibu, Tanpa melampaui rasa hormat hal ini boleh dikatakan wajib untuk ibu ketahui. Setelah 1 Minggu usia anak di dalam rahim, ibu harus belajar berkomunikasi dengan bayi, kemudian mulai merangsang bayi dengan berbagai macam pengetahuan dengan cara sang ibu melakukan pengkajian-pengkajian. Seterusnya berbagai macam tanda yang sama sekali tidak boleh luput dari perhatian. 

Dalam Surah Al-Imran ayat 46 yang dinisbahkan kepada Maryam: ‘’Dan dia berbicara dengan manusia (sewaktu) dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dia termasuk diantara orang-orang saleh’’. Ayat ini mengingatkan bagaimana Tuhan berkehendak merahmati Isa di masa kecilnya, sekaligus menjadi bahan refleksi bagi kita semua, jika anak kecil sangat dekat dengan Tuhan. 

Pada fase selanjutnya saat umur 1-2 tahun sang anak akan belajar untuk berjalan, kemudian berlari karena rasa ingin menjelajah mengenali berbagai tempat yang telah timbul dalam dirinya. Berawal dari kinestek, visual, kemudian imajinatif dari dasar kemanusiaan tersebut mulai mendapatkan respon. Setelah di alam rahim yang kinestetik dan visual di umur 35 hari berlanjut di umur 1 tahun, langkah untuk menjadi tahu mulai terlintas dan ingin diaktualisasikan. 

Namun, di usia anak yang demikian ia akan muncul possesivitas atau sifat kepemilikan. Yang mana sesuatu yang ia genggam teramat susah untuk kita ambil. Sebagai risiko ketika kita mengambil barang yang ia genggam, ia akan genggam lebih kuat dan akan menangis bila dipaksa. Ada rasa kepelikan yang tinggi, oleh karena itu ia membela tentunya seorang ibu yang tangkas akan berusaha semaksimal mungkin dengan memahami proses pembelaan ini. Bukankah nantinya akan mewujudkan bela saudara, bela keluarga, bela Bangsa, bela agama dan bela diri sendiri. 

Tidak patut untuk barang yang ia genggam dirampas dengan memanfaatkan kelemahan fisiknya, dan alangkah segera dipeluk dalam ayunan agar ia terdiam dalam tangisan. Perlu kita ingat jika kelak ‘’belanya’’ itu akan kembali pada keluarga. Bisa jadi dari hal-hal sederhana ini kelak saat ia besar lebih memilih lingkungan luar dari pada lingkungan keluarga sendiri. 

Di dalam Al-Qur’an manusia dibahasakan dengan 3 bahasa yang berbeda dan bermakna satu. Yakni Basyar, An-nas, dan Al-insan, yang kesemuanya ini bermakna manusia. Dalam bahasa Jawa kita kenal dengan orok, bayi, bocah, dan Arek. Dalam kalangan masyarakat Nusantara, seseorang yang telah berumur atau bisa dikatakan pemuda, lantas bertingkah laku belum dewasa, maka akan digelari dengan ucapan “masih bocah”. Dalam dialek Makassar digelar dengan istilah “miong inji” yang juga bermakna masih bocah. Pastinya kita enggan digelari demikian, tetapi hal ini belum menjadi kesepakatan umum jika umur bukanlah semata ukuran kedewasaan. Sebagaimana yang kita saksikan di layar kaca, Pembesar-pembesar Negara bertingkah layaknya anak-anak TK (ucap Gus Dur). Pastinya hal demikian dikarenakan sesuatu yang belum tuntas di masa kecilnya, Maka dari itu mari kita obrolkan.

Untuk proses awal anak mempelajari bahasa dengan meniru suara-suara yang ia dengar, suara manusia ataupun suara binatang, tergantung intensivitas yang didengarnya. Bagi anak pertama, orang tua sekiranya lekas memilih nama panggilan kepada dirinya ibu / bapak, mama/ayah yang akan dilekatkan di telinga anak. Setelah itu dalam hal bahasa, karakter yang seragam dari anak akan banyak bertanya, bahkan pertanyaan yang sama dan terus diulang-ulang. 

Memang perlu pada fase ini orang tua harus ekstra sabar, sebab anak kecil berusaha menyimpan informasi ke dalam otaknya dari dendrit yang mula terbangun. Jangan sampai anak dibentak karena pertanyaan yang sama terus diulang-ulang. Dan hal ini sering terjadi, yang mana demikian itu akan menjatuhkan mentalitas belajarnya. Bila anak mengalami hal yang demikian, kelak di saat ia sekolah jangan heran bila anak enggan untuk belajar atau mempertanyakan hal-hal yang berbau pengetahuan. Dikarenakan kerja-kerja otaknya telah dimatikan dengan bentakan.

Di umur 2-3 tahun, secara alamiah masuk kepada proses yang menantang diri. Ia akan belajar untuk berdiri, ketika jatuh akan bangun lagi, jatuh lagi dan kembali bangun. Sungguh pada masa-masa ini merupakan hal yang begitu indah untuk anak diajak bermain. Lelah mengajarinya berjalan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang tua dan keluarga. Tak jarang saat ia masih belajar berjalan, ia akan berusaha melompat meski kakinya belumlah kuat, mencoba menjinjit bahkan mempraktekkan menendang bola akan dilakukannya meski risikonya jatuh, nangis, kemudian mencoba lagi. Ada baiknya kita yang dewasa kembali belajar pada anak kecil.

Pada usia 3-4 tahun, si anak adalah masa pergolakan, ia akan mempertanyakan dirinya di mata keluarga. Apapun ditolak, ada juga menolak tetapi mau, dan kembali orang tua harus lebih sabar lagi. Si anak mempertanyakan keberadaan dirinya, dalam bahasa orang dewasa “aku ini apa di matamu?”, kira-kira demikian. Pada fase ini adalah waktu bagi anak harus memiliki teman. Sang anak belajar hidup serta mengerti akan hidup. 

Wahai para orang tua, arahkan mereka dan jangan memarahinya karena pikirannya belum sampai pada pikiran orang tuanya. Orang tualah yang harus memahami pemikiran buah hati pelipur lara. Jika penolakannya telah teramat merepotkan, sekali lagi jangan dimarahi, Peringati saat ia sedang tidur. Bisikkanlah agar ia berusaha melawan dirinya sendiri, serta sampaikan dengan penuh kasih dan sayang mengenai apa yang orang tua inginkan. 

Sekali lagi marilah kita tekankan, Anak pada usia di atas 3-4 tahun adalah masa orang tua harus ekstra sabar tentunya. Mentalitasnya mulai terbangun pada umur tersebut, maka tuntaskan kemarahannya, tuntaskan emosinya dengan nasihat-nasihat, tuntaskan berontaknya dengan mengajaknya bermain dan mengobrol. Bila ia tidak tuntas saat kecil, maka sifat ini akan terbawa sampai ia dewasa bahkan sampai tua.

Di usia 4-5 tahun, si anak akan melakukan perbandingan-perbandingan, Yakni si anak akan suka memakai sepatu ibunya atau ikut kakak ke sekolah misalnya. Jiwa yang demikian ini adalah saat anak mengidentifikasi dirinya dan orang lain, membandingkan jika ia bisa seperti orang lain. Puncak emosi anak akan bermain pada usia ini, disertai dengan keinginan yang kuat. Pastikan kita (orang tua) agar lebih banyak mempertajam bacaan tentang anak.

Beragam kenyataan yang kita temukan di usia yang terus berlanjut ini, pastinya kita pernah menemukan seseorang yang sudah tua dan bertingkah laku layaknya beberapa fase yang telah disebutkan di atas. Hal itu terjadi dikarenakan ketidaktuntasan di masa kecil. Akankah keluarga atau anak kita akan bernasib demikian?, ‘’Afala ta’lamun’’.... (Agar kalian senantiasa mengerti). Sekian, semoga bisa menjadi keterangan yang bermanfaat.

Oleh : Acca  /  Arbamedia
Artikel Terkait