Mengungkap Rahasia 'Si Kuncung' yang Terabaikan

image: mahapuja
Tentunya saat ini tak banyak yang tahu mengenai ‘’Si Kuncung Edisi Ke-34’’, Dalam Rubrik ‘’Saya Ingin Tahu’’, Asuhan oleh: Pak Ipa, Rubrik ini adalah rubrik tanya jawab. Anak SD yang gemar membaca pada saat itu pastinya segera tahu, majalah ini yang diterbitkan sejak tanggal 1 April 1956 di era Soekarno, majalah Si Kuncung.

Mari mengingat-ingat. Nah, edisi yang akan kita ulas ini adalah edisi ke-34 diterbitkan pada tahun 1979, era Soeharto. Meski banyak dicerca bukan berarti tanpa nilai positif. Soeharto melanjutkan semangat literasi, semangat baca atau ber-Iqra. Dalam salam redaksinya disebutkan; bacaan mingguan yang segar. Bersifat membina putra-putri SD mendorong bersikap mahakarya, memperluas cakrawala pengetahuan / minatnya, tetapi pasti digemari pula oleh ayah-ibu, kakek/nenek dan guru mereka, demikian kata redaksi.

Sungguh menarik, mengajak anak SD bersikap mahakarya, Bukan bersifat. Jelas, di dalam sikap pastinya telah terpondasi kuat bahan-bahan sifat yang telah bercampur baur menjadi kesahihan yang kokoh, melahirkan sikap. Bersikap sopan santun, jika sikapnya telah sopan-santun, pastinya telah lebih dulu bersifat sopan dan santun. 

Di alinea pertama rubrik tanya jawab, pertanyaannya demikian; Pak, Ibu saya selalu menggunakan ‘’Bengle’’ untuk membalur perut adik kalau ia sakit, adik saya yang terkecil berumur tiga bulan. Kata ibu, bengle adalah obat tradisional sejak nenek moyang. Pertanyaan di atas dijawab di alinea ke dua: Bengle atau Bangle dalam bahasa Indonesia, atau jariango dalam bahasa Priangan, termasuk keluarga tumbuhan zingiberaceae. Tinggi pohonnya kurang lebih satu setengah meter dan mudah berkembang biak. Akarnya akar tongkat yang mampu bertahan lama. Akar tongkat itu berwarna kuning bukan?...dan seterusnya.

Tanya jawab di atas menunjukkan kecerdasan redaksi dalam menjawab pertanyaan, membawa anak-anak ke dunia imajinasi tanpa ada kesan menggurui, kedekatan antara pembaca dan penulis seolah tidak memberi jarak. Timbul obrolan ketika membaca yang bernuansa sangat akrab, kesan ini tentunya agar ada kegairahan untuk anak SD agar senantiasa dekat dengan buku, pastinya. 

Buku menjadi sosok yang begitu digemari pada saat itu, sikap berkitab ditimbulkan sejak SD dengan bahasa semenarik mungkin. Bukankah Tuhan mempesonai “dirinya” dengan bahasa?, Menantang umat manusia yang berlaku hingga detik ini adakah yang mampu menyamai satu ayat dari Al-Qur’an?. Sampai saat ini, tantangan itu menjadi pengokoh keagungan Tuhan dalam Mahakarya bahasa-Nya.

Iqra’ kalimat perintah. Jika Tuhan kita ibaratkan sebagai komandan, tentunya ‘’laksanakan’’ Sebagai jawaban satu-satunya. Tidak melaksanakan, berarti hukuman dari komandan sebagai balasan. Pernahkah kita sejenak berfikir, banyaknya bencana yang terjadi di negeri ini karena kita mengabaikan perintah Iqra’.

Penulis ‘’Pahlawan-Pahlawan Belia’’ yang bernama Saya Sasaki Shiraisi asal Jepang, Menyelesaikan gelar desertasinya mengenai politik Indonesia, yang rujukannya membaca buku-buku bacaan anak SD. Termasuk majalah Si Kuncung dan Majalah Bobo

Saya Sasaki Shiraisi meneropong bangsa Indonesia dengan menjajaki bacaan-bacaan tersebut. Sederhana saja, wajah Negara saat ini adalah bentukan dari masa lalu. Ia membaca sejarah, senada dengan Soekarno berteriak lantang, agar orang-orang Indonesia tidak melupakan sejarah Iqra’: bacalah, karena kita pemilik Bangsa.

Di alinea selanjutnya, pertanyaan-pertanyaan anak SD bertanya perihal Sindrom/sindrome, ada juga yang menanyakan tentang reaktor bom yang ia baca dari koran Tempo, ada yang mengenai pupuk buatan dan apa itu panel?. Panel merupakan sekelompok orang terpilih dan yang dianggap ahli serta bisa mewakili pendapat umum tentang sesuatu masalah. Demikian jawaban Pak Ipa tentang panel di akhir tulisan. 

Kita bisa adakan perbandingan antara anak SD yang dulu di Era Soekarno dan Soeharto. Bacaannya berbobot dan melahirkan manusia-manusia yang berbobot pula. Lantas, bagaimana dengan anak SD kita kali ini di sekolah, adakah yang memiliki pertanyaan seperti ini?, Ataukah anak negeri ini di umurnya yang sejuk bermain imajinasi memperkaya dendrit (kabel ingatan: penulis), malah dicekoki dengan angka-angka. 

Kualitas anak Bangsa sangat tergantung bagaimana anak-anak kecil sejak usia dini berpengetahuan dengan baik. Sebab, mereka tak selamanya kecil, merekalah yang akan melanjutkan nafas Negeri yang tentunya lebih baik dari generasi saat ini. Membaca, itu perintah pertama, bukan ber-matematik.
Oleh : Acca / Arbamedia
Artikel Terkait