Mengulik Misteri Perjalanan Hidup Seorang Bayi

image: babysitting.academy
Volume bayi akan meningkat hingga 80% saat berumur 0 sampai 5 tahun. Sebagaimana pada umumnya, lepasnya anak dari alam kandungan lantas semakin memperkokoh tugas ibu sebagai seorang Rektor. Hal sederhana namun jangan sampai luput dari perhatian, bayi berkomunikasi tidak dengan bahasa melainkan dengan tanda. 

Dalam beberapa ayat Al-Quran, kita akan menemukan bagaimana Tuhan mengisyaratkan untuk memperhatikan siang dan malam, bintang-bintang serta bulan sebagai pertanda, (ilmu simbol). Lewat bayi, Tuhan telah memperingatkan umat Islam untuk memahami ilmu tersebut, saat bayi lapar, kenyang, kedinginan, tergigit semut, dia akan mengeluarkan bunyi berupa tangisan, tentunya itu adalah suatu tanda. Seorang ibu akan lekas mempelajari dan mengetahui apa-apa yang diinginkan sang bayi. 

Sekedar bahan pertimbangan, garis tangan adalah garis otak. Keakuratan dalam membaca garis otak sangat tergantung dari pendalaman ilmu tersebut, dan demikian itu telah bisa ditemukan digaris tangan anak sejak kecil. Demikian dengan raut wajah yang berubah bila sang anak menginginkan sesuatu, sebagai bahasa Tuhan, ilmu tanda/simbol. 

Perlahan sang bayi seiring waktu akan tersenyum dan tertawa. Mata yang perlahan terbuka dan menyala, ia tidaklah langsung melebarkan mata menatap dunia yang profan ini, Butuh ancang-ancang. 35 hari usianya, perlahan ia akan membuka mata. Untuk pertama kalinya kedua bola mata itu akan menangkap cahaya, nyala warna matanya muncul sampai dengan umur 7 tahun. Mata, berarti anak masuk ke dalam dunia visual. 

Sebagaimana penjelasan tentang alam rahim, berarti anak berada dalam dunia kinestetik. Di mana ibu-ibu maju di masa mengandung, banyak membaca dan mengkaji untuk merangsang otak bayi yang sementara aktif di dalam kandungan. Perlu kita ingat bersama, rahim kedua seorang bayi adalah kamar, dunia visual. Penting untuk mendesain kamar, mengondisikan kamar agar yang ia lihat saat membuka mata pertama kali di bangun tidurnya adalah buku-buku, angka dan tulisan. Hal ini akan merangsang bayi bersikap maha karya sejak dini. 

Di usia 3-4 bulan, bayi akan belajar dengan memasukkan apa-apa saja ke dalam mulutnya, mengecap dan “mengunyah”, hal ini dikarenakan rangsangan gigi yang akan tumbuh. Penting untuk tidak langsung menjauhkan apa saja yang “dikunyah” si bayi, sebab ia dalam masa belajar. Ibu berupaya mengontrol kebersihan dan apa saja yang masuk di mulutnya. Tentunya melalui proses menggenggam, kulitnya meraba dan “mengunyah” untuk mempelajari segala benda, inilah prosesnya bayi belajar sampai pada umur 9 tahun, proses kemanusiaan masuk kepada level ke tiga, usia imajinatif. 

Sebagaimana Nabi Adam dalam Surah Al-Baqarah ayat 31, wa’allama adamaal asma’a: Dan diajarkan kepada Adam nama-nama benda. Yang mengajarkan adalah Tuhan, sebagaimana seorang Ibu yang mengajarkan anaknya, berarti posisi Ibu sebagai Rektor yang mengajarkan anaknya benda-benda dan mengenali setiap fase anak dengan teliti.  

Sering kali orang tua akan segera kaget bila mendengar anaknya menangis, kita akan menganggapnya itu adalah kesedihan atau kesakitan. Perlu kita ingat bersama, orang tualah yang mengajarkan tentang kesakitan kepada anak, di usianya yang masih tidak mengenal apa itu patah hati, apa itu kesakitan, anak yang menangis berarti ia sedang menguatkan jantungnya, jadi jangan lekas didiamkan. Bila anak menangis dalam waktu yang lama, ajaklah ia mengobrol tentunya bahasa ibu yang berperan penting dalam hal ini. Kira kira bahasanya bisa seperti ini bila menangis berkelanjutan “menangislah nak, agar jantungmu kuat’’, Setelah capek berhentilah”, Insya Allah anak akan paham dan mengikuti perintah. Posisi anak di pelukan ibu pasti mengetahui apa yang di sampaikan oleh Ibu.

Di usia 6 bulan, bayi akan belajar untuk membalikkan badan, pada saat proses ini dianjurkan untuk tidak terburu-buru membantu, guna mengajarkan kepada anak bila hidup ini dipenuhi dengan perjuangan. Biarkan bayi berusaha, ketika ia butuh bantuan pasti ia akan memberi tanda berupa tangisan atau teriakan. Biarkanlah bayi merayap, merangkul, agar ia bisa merasa apa-apa saja yang disentuhnya. Dan pada proses selanjutnya, dipastikan agar tidak terburu-buru menginginkan anak untuk berjalan. 

Kereta jalan bagi anak itu cenderung kurang bagus, sebab ada pemaksaan. Biarkan anak menikmati masanya berguling-guling, tengkurap, dan merayap, tuntaskan prosesnya agar ia lekas bergerak maju. Sampai waktu yang diinginkannya, ia akan memperlihatkan tanda untuk ke proses selanjutnya, berjalan. 

Dalam proses tersebut, sang anak akan belajar berdiri setelah itu jatuh lagi, setelah jatuh bangkit lagi. Maka, jadilah ibu yang mengurusi pendidikan anak sejak ia berprodikan rahim, hingga ia berfakultaskan rumah. Dan jadilah Rektor yang akan mendidik anak-anak generasi bangsa yang punya nilai tawar di mata dunia. Pada edisi selanjutnya, penulis akan mencoba mengobrolkan usia anak dari 1 sampai 4 tahun. Doakan. Semoga artikel ini menjadi keterangan yang berkah dan manfaat. Salam..

Oleh : Acca / Arbamedia  
Artikel Terkait