Kunci Utama Kepemimpinan dalam Surat Al-Baqarah

image: pixr8
Setiap manusia memiliki kelemahan, saling membutuhkan terhadap sesama adalah kelaziman. Antara manusia yang satu dengan manusia yang lain merupakan fitrah: Saling menyayangi atau saling menjaga satu sama lain, Dan itu kebutuhan. Hal demikian tertanam di Negara ini, negeri yang penduduknya menganut paham gotong royong. Mengenai gotong royong, mengingatkan kita kepada ‘’the founding father’’ negeri ini yaitu Sukarno. Beliau pernah menamakan kabinetnya dengan kabinet Gotong Royong.

Selama beberapa waktu bangsa ini pernah tenggelam dalam pahitnya penjajahan, Sukarno muncul sebagai peletak dasar dengan kesuksesannya memproklamasikan Negara ini 17 Agustus 1945. Keberhasilan yang dirayakan tersebut tidak berhenti di Proklamasi, berbagai macam intrik dilaluinya, keberhasilan Sukarno sebagai pemimpin kini berbuah ‘’kerinduan’’

Pemimpin ialah mereka yang memiliki kapasitas pengetahuan tinggi, kepekaan terhadap sesama juga sebagai sifat yang harus dimiliki. Setiap persoalan harus diselesaikan tanpa meninggalkan luka untuk yang bertikai. Selain itu, mampu mengambil kesimpulan-kesimpulan dari persoalan yang sukar diselesaikan. Al-Qur’an menyinggung kepemimpinan yang tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 30: ‘’Dan Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat’’. 

Kita bisa mengambil pelajaran dari ayat ini ketika Tuhan berfirman kepada para malaikat, “Aku (Allah) hendak menjadikan khalifah di bumi”. Bila dinisbahkan kepada manusia, Ibarat seorang pemimpin yang memanggil tim atau pekerja-pekerjanya dalam sebuah perusahaan untuk rapat. Seorang pemimpin jika ingin melakukan sesuatu, hendaknya dirapatkan kepada tim-tim yang lain, serta tidak membuat keputusan sendiri atau keputusan secara sepihak. Para bawahan atau tim hendaknya turut tahu tentang hal-hal apa yang akan dilakukan pemimpinnya. Ayat tersebut di atas mengajarkan kepada kita, tentang organisasi dan ilmu kepemimpinan.

“Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”,  Firman Tuhan. Khalifah berarti pemimpin atau penguasa. Hal ini mengajarkan kepada kita, seorang pemimpin adalah konseptor. Mengonsep terlebih dahulu apa-apa yang akan dilakukan, kemudian dirapatkan, Atau Bahasa lainnya memiliki rancangan terlebih dahulu. Tentunya rancangan tersebut telah matang sebelum mengumpulkan rekan-rekan tim. Kemudian, apa yang dirancang merupakan sesuatu yang belum ada atau pernah ada, tetapi dilakukan penyempurnaan agar lebih baik.

Kita simak ayat selanjutnya, malaikat menjawab “Apakah Engkau (Allah) hendak menjadikan orang-orang yang merusak dan menumpahkan darah  di bumi?”, Malaikat ‘’mengkritik’’ Rencana Tuhan. Dalam Bahasa manusianya, Tuhan yang Maha segalanya saja di kritik, apalagi manusia?, Seorang pemimpin wajib belajar dari ayat ini. Kecerdasan pemimpin, baik itu konseptor yang memiliki banyak pengalaman atau banyak keahlian tidaklah menjanjikan kepastian. Sebab yang pasti hanyalah milik Allah SWT. Pemimpin ialah mereka yang tidak lepas dari kritikan, bila dikritik bukanlah bermaksud untuk melemahkan atau dipandang buruk oleh bawahan. Tetapi itulah manusia dengan aneka ragam pemikirannya. 

Seorang yang mengkritik, pastinya memiliki argumen atau pembenaran tersendiri. Oleh karena itu meluangkan waktu mendengar kritikan, merupakan langkah yang baik bagi pemimpin. Malaikat memberi argumen kepada Tuhan “Sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu”. Secara seksama bisa kita perhatikan arah dari kritikan Malaikat ini. Seolah ada “kecemburuan” dalam diri malaikat. Dengan tenangnya Malaikat menyampaikan kepada Tuhan mengenai ibadah-ibadah yang dilakukannya ‘’Selalu bertasbih dan menyucikan nama-Mu (Allah)’’. Seperti halnya ibarat manusia yang merasa memiliki kinerja yang baik, melakukan banyak hal namun tidak pernah diperhatikan oleh pemimpinnya, maka akan melakukan kritikan kepada pemimpinnya.

Dengan tenang pula Allah selaku yang Maha segalanya, tidaklah langsung membentak atau memarahi Malaikat yang mengkritik tersebut. Allah berfirman: ‘’Sungguh aku mengetahui apa yang  tidak kamu ketahui”, Sungguh jawaban yang bijak. Sebagai pemimpin jika dikritik oleh bawahan, jawaban sebagaimana ayat ini adalah arahan untuk menjadi pemimpin  yang bijak. 

Merupakan kesalahan yang besar jika seorang pemimpin memarahi apalagi membentak bawahannya, sungguh yang demikian itu merupakan perilaku yang tidak baik. 

‘’Lebih Tahu’’, Dari ayat di atas. Menghimbau kepada pemimpin harus lebih tahu daripada tim atau bawahannya. Adalah konsep yang benar-benar telah diteliti terlebih dahulu, hingga pemimpin paham betul dengan apa yang akan dilakukannya. Malaikat menyampaikan risiko jika dibuatnya Khalifah atau penguasa di bumi, hanya akan menumpahkan darah. Seperti halnya manusia, dalam hal ini bawahan yang memikirkan akibat dari keputusan-keputusan pemimpinnya. Maka dari itu, berbicara dengan baik kepada bawahan penting adanya, Dan kecerdasan memimpin adalah wajib adanya.

Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, Kita mengharap keselamatan di dunia dan akhirat. Al-Qur’an tidak akan pernah habis untuk disemai makna-maknanya. Semakin diulas semakin menimbulkan banyak pertanyaan-pertanyaan. Inilah Al-Qur’an, Dengan segala kedalaman pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Maha benar Allah, Dengan segala Firman-Nya...

Penulis : Acca / Arbamedia
Artikel Terkait