Kamu Berhasil Sayang! Bisakah Kau Lakukan Ini Tiap Hari?

gambar : waspada.co.id
Kita hidup di dunia ini tidak bisa memungkiri bahwa semua sudah digariskan untuk dipasang-pasangkan, sudah ditakdirkan untuk saling melengkapi, dan juga sudah diharuskan untuk saling berbagi. Entah kepada siapapun atau kepada apapun itu. Karena sebagai muslim yang taat, pantasnya perbuatan-perbuatan baik tersebut harusnya terus menerus dilakukan agar kualitas keimanan kita semakin dekat di hadapan Allah SWT.

Terlebih salah satu sunahnya Allah untuk keperluan hidup berdampingan bagi umat muslim adalah menikah. Karena sudah banyak ayat yang menjelaskan tentang sebuah pernikahan. Salah satunya yakni :

“ Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir ”. (QS. Ar-ruum (30);21)

Dari ayat tersebut sudah dijelaskan, bahwa keperluan hidup memang berkebutuhan saling berpasang-pasangan untuk tujuan melengkapi hidup bersama. Dan juga memiliki keturunan, melaksanakan sunnah Rasulullah serta menjalankan kewajiban pada umumnya.

Akan tetapi tidak dapat dipungkiri, bahwa setelah melaksanakan perkawinan pasti tidak semulus yang dirancang dan dibayangkan sebelumnya. Yang bisa dipastikan setiap kaum atau setiap orang yang melakukan perkawinan, pasti menemukan permasalahan yang terjadi di alam rumah tangganya, dan itu sangatlah lumrah. Karena dari situlah permasalahan yang semakin dinamis menjadikan sebuah keluarga semakin harmonis.

Selain itu juga, banyak sekali pengorbanan seorang suami atau seorang istri demi dicapainya surga untuk berdua serta dicapainya kebahagiaan dalam rumah tangga. Tak jarang suami atau istri berbohong untuk membuat pasangannya bahagia dan bangga dengan dirinya. Terlepas setelah berbohong, dia menderita atau malah memberikan kisah hikmah yang bisa dijadikan pelajaran kita semuanya.

Seperti contoh di bawah ini, ada sepasang suami istri yang sangat memilukan cerita hidupnya namun bisa kita jadikan sebuah pelajaran untuk kedepannya. Bahwa tidak ada kecintaan yang lebih, terlebih hanya kecintaan terhadap Sang Maha Cinta. Cerita ini berawal ketika ada seorang istri memberikan tantangan kepada suaminya untuk hidup tanpa dirinya. 

Dia meminta kepada suaminya untuk tidak ada komunikasi sama sekali diantara mereka selama sehari. Si istri berkata kepada suaminya itu, “ Bila kamu bisa melewati itu, aku akan mencintaimu selamanya”. Dan… sang suami pun setuju…. Dia tidak sms / telpon istrinya seharian. Tanpa dia ketahui bahwa istrinya hanya memiliki 24 jam untuk hidup, karena dia terkena kanker.. Keesokan harinya sang suami itu pulang kerumah. Air matanya pun tiba-tiba menetes melihat istrinya sudah terbaring dengan surat di tangan yang bertuliskan “ Kamu Berhasil Sayang, bisakah kamu lakukan itu setiap hari...?? ” I LOVE YOU.. “ Don’t Ever lost contact with someone you love, you’ll never know what’s gonna happen the next day, or the day after that..

Pada kisah ini kita bisa belajar banyak hal dan kita bisa mengambil secuil hikmah dari kisah yang sangat tragis ini. Bahwa jangan cintai seseorang setinggi langit karena langit bisa runtuh, jangan cintai seseorang sedalam lautan karena lautan bisa surut, jangan cintai seseorang sebesar dunia karena dunia bisa hancur. 

Cukup cintai seseorang seujung kuku, walau kecil, dan selalu dipotong, ia akan selalu tumbuh. subhanallah... Semoga kita senantiasa meraih kebahagiaan dan keberkahan suami istri yang sakinah, mawaddah, warahmah, dianugerahi keturunan yang soleh dan solihah. Di dunia sejahtera dengan harta yang berlimpah dan penuh keberkahan, di akhirat masuk surga firdaus atas ridzo Allah SWT. Aamiin .....
Oleh : Lukman. H  /  Arbamedia
Sumber : id.eventbu.com

Ternyata! Ada 3 Sifat Kaum Jahiliyah yang Patut Kita Teladani

gambar : seputar-hijrah
Banyak dari kita rata-rata umat muslim menganggap bahwa kehidupan jahiliyah adalah kehidupan yang mengesampingkan moral, salah paham, dan kehidupan yang tidak layak. Akan tetapi kita tidak pernah menauladani dan tidak penah membaca lebih lanjut tentang perilaku orang-orang di zaman jahiliyah terlebih dahulu.

Mungkin kita sudah terlanjur salah ajar. Sehingga terbentuklah kesalah-pahaman tentang kondisi masyarakat jahiliyah. Fragmen kehidupan jahiliyah yang disajikan kepada kita adalah tentang kebodohan, pembunuhan anak perempuan, perbudakan, tanpa ada babak lain. Dari penggambaran yang tidak utuh inilah pemahaman kita terbentuk. Kemudian nalar kita pun tertidur, kita tidak mempertanyakan mengapa Allah memilih tanah Arab dan bangsa Arab sebagai pionir menyebarkan misi rahmatan lil ‘alamin.

Padahal disisi lain Allah memilih bangsa Arab untuk dijadikan pionir dalam penyebaran islam rahmatallil ‘alamin, karena memang di zaman jahiliyah banyak perilaku orang arab yang tidak kita ketahui. Di dalam hadits riwayat bukhari muslim dijelaskan bahwa:

” Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail. Memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Memilih Hasyim dari keturunan Quraisy. Dan memilihku dari Bani Hasyim.” (HR. Muslim 7/58 dan selainnya).

Allah pilih suku bangsa Arab (keturunan Ismail) dibanding suku bangsa lainnya di muka bumi ini. Kemudian memilih lagi yang terbaik dari yang terbaik di antara mereka, Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sekiranya perihal akhlak yang dimiliki bangsa arab terdahulu, kita perlu untuk mengkaji serta mencontoh untuk dijadikan pejaran, bahwa bangsa arab pada zaman jahiliyah juga memiliki sifat yang bagus dan bahkan bisa dicontoh, seperti :

1. Mereka memahami kebersamaan dan keberagaman hidup dengan cara saling berbagi. Hal ini dijelaskan dalam sebuah syair yang sudah digubah oleh Hatim At-thai sebagai berikut :

(syair sudah diterjemahkan)

” Apiku dan api tetanggaku adalah satu, Aku menyediakan teko untuknya
Tidaklah merugikanku tetangga di sebelahku, Tak seharusnya ada penutup di pintunya ”

Demikian menjelaskan bahwa segala sesuatu yang dilakukan mereka adalah bergantian dan bahkan tidak segan-segan untuk saling berbagi, maka patutnya kita meneladaninya.

2. Mereka menghargai kehormatan orang yang sudah berkeluarga. Hatim At-thai juga sudah menjelaskan dalam syairnya, pada saat itu ada suami istri yang suaminya meninggalkan istrinya untuk bersafar, maka Hatim berbicara :

“ Tetanggaku tidak mengeluhkanku. Melainkan apabila suaminya pergi, aku tak lagi mengunjunginya. Kebaikanku akan sampai padanya kala suaminya kembali padanya. Aku tidak merusak tabir pembatasnya ”.

Ini menunjukkan bahwa sikap toleransi dan saling menghargai sudah ada sejak zaman jahiliyah. Dan ini juga sesuai dengan panji-panji keilmuan umat islam, Rasulullah SAW bersabda :

“ Janganlah salah seorang di antara kalian berdua-duaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya.” (HR. Ahmad 1: 18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, para perowinya tsiqoh sesuai syarat Bukhari-Muslim).

Sangat kontras sekali dengan keadaan suami istri zaman sekarang, Masya Allah... Ketika sekarang banyak sekali istri-istri yang suka pamer ketika suaminya pergi dan sebaliknya, padahal ini tidak diajarkan dalam islam.

3. Saat berkunjung kerumah tetangga, mereka sangat memperhatikan adab dengan cara berdiri disamping pintu bukan didepan pintu tuan rumah. Dengan alasan bahwa mereka saling menutupi aib tetangganya. Karena apabila berdiri didepan pintu, maka kejadian di dalam rumah akan terlihat semua dan orang-orang jahiliyah tidak menyukai apabila ada aib tetangga yang dilihat, sungguh mulia sekali bukan?

Pelajaran yang bisa kita ambil dalam menauladani tiga akhlak terpuji orang-orang jahiliyah pada waktu itu, yaitu agar membuat kita lebih menghargai dan bertoleransi, sehingga bisa membangun keluarga yang harmonis dan juga menjalin kerukunan antar umat.

Oleh sebab itu, pantasnya kita sebagai muslim yang taat serta sudah digaris tuhan melalui ayat-ayatnya, kita mampu memberikan contoh yang lebih dari ketiga contoh akhlak terpuji yang dimiliki kaum jahiliyah tersebut. Semoga kita bisa mencapai kategori islam rahmatallil ‘alamin, baik dimata manusia maupun dimata sang pencipta alam, Amiiin.
Oleh : Lukman. M  /  Arbamedia
Sumber : kisahmuslim.com
Syair: Majalah al-Ustadz oleh Abdullah an-Nadim

Inilah Pengakuan 3 Orang yang Pernah Ditemui Malaikat

Gambar: videoblocks
Betapa besar karunia Allah SWT kepada kita semua, tapi begitu gampangnya kita melalaikannya. Ketahuilah bahwa atas izin dari Sang Ilahi, semua makhluk mampu terpenuhi kebutuhan mereka. Tidak pandang itu manusia, tumbuhan atau hewan selalu saja bisa hidup berkembang biak untuk menghiasi nuansa alam. Tapi mengapa masih banyak pula orang yang tidak mengingat rahmat dan kasih sayang Allah SWT tersebut?. Ketika susah, banyak orang memohon - mohon untuk diberikan kebaikan dan kemudahan dunia akhirat.

Tapi belum sampai ke titik kebahagiaan akhirat, banyak pula yang cenderung lalai untuk melakukan tanggung jawab mereka sebagai khalifah di bumi. Sama halnya kisah tiga pemuda Bani Israil kala itu yang sedang menderita kesusahan duniawi, ketika Allah SWT memberikan sebuah karunia amat mulia, diwaktu itu juga kedua diantara mereka menjadi lupa dan hatinya tertutup. Tapi satu diantara mereka patut dicontoh, karena tidak goyah meski kemewahan yang dimilikinya diminta kembali oleh Allah SWT sebagai ujian baginya. 
Kisah tersebut bermula dari adanya tiga pemuda dari bani Israil, satu diantaranya menderita penyakit sopak ( kulitnya belang – belang ), kemudian satunya lagi botak, dan yang terakhir dari mereka buta. Sewaktu ketika Allah SWT hendak memberikan ujian, sehingga mengutus malaikat untuk mendatangi mereka satu persatu.

Maka datanglah malaikat kepada orang sopak, kemudian bertanya : “ Keadaan bagaimanakah yang amat tercinta bagimu…? Orang sopak menjawab : “ Warna kulit yang bagus dan lenyaplah penyakit yang menyebabkan orang jijik kepadaku ”. Kemudian malaikat itu mengusapnya dan hilanglah semua kotoran pada tubuhnya, selanjutnya Allah SWT menjadikan warna kulitnya baik dan bagus. Malaikat itu bertanya lagi kepadanya : “ Jenis harta apakah yang amat kamu cintai..? maka ia menjawab : “Unta” ( dalam sebuah riwayat lain juga dikatakan lembu). Maka Allah SWT memberikan karunia berupa unta yang bunting kepadanya, sembari malaikat berdo’a : “ Semoga Allah SWT memberi keberkahan untukmu dalam unta ini.”

Seterusnya malaikat mendatangi orang botak dan bertanya : “ Keadaan bagaimanakah yang amat tercinta bagimu..?” orang botak menjawab : “ Rambut yang bagus, kiranya lenyaplah apa yang jadi penyebab orang jijik kepadaku.” Lalu malaikat pun mengusapnya dan hilanglah kebotakan itu, karena Allah SWT telah memberikan ia rambut yang bagus. Lalu malaikat kembali bertanya : “ Jenis harta apakah yang amat kamu cintai..?  ia menjawab : “Lembu”, maka ia telah dikaruniai lembu yang bunting. Kemudian malaikat berdoa : “ Semoga Allah SWT memberikan keberkahan untukmu pada lembu ini ”.

Terakhir malaikat mendatangi seorang yang buta, kemudian bertanya : “ Keadaan bagaimanakah yang amat tercinta bagimu…? ” orang buta itu menjawab : “ Sekiranya Allah SWT mengembalikan penglihatanku, sehingga aku dapat memandang semua orang ”, malaikat kemudian mengusapnya, maka Allah SWT telah mengembalikan penglihatan matanya. Selanjutnya malaikat bertanya lagi : “ Jenis harta apakah yang amat kamu sukai..? ” ia menjawab : “Kambing”, maka Allah SWT mengaruniai sebuah kambing bunting kepadanya dan malaikat pun juga turut berdoa kepadanya. 

Setelah ketiga pemuda itu diberikan Allah SWT banyak rizki dan karunia, Pada suatu ketika malaikat kembali datang dengan berpakaian serba buruk kepada orang yang dulunya terkena sopak dan berkata : “ Aku adalah orang miskin dan sudah terputus dari sebab – sebab untuk mendapatkan rizki saat dalam perjalanan, Sudi kiranya engkau memberikan rizki hanya sekadar untuk berbekal..? maka ia ( orang yang dulunya sopak ) menjawab : “ Kebutuhanku masih banyak sekali ” ( ia enggan untuk memberikan rizkinya kepada malaikat yang menyamar itu ). 

Maka malaikat itu berkata : “ Kelihatannya aku mengenalmu, bukankah engkau dulunya terkena sopak dan fakir, lalu Allah SWT memberikan karunia kepadamu..? ia menjawab : “ Semua harta ini merupakan warisan dari nenek moyangku.” Maka malaikat berkata : “ Jika kamu berdusta ( berbohong ) atas perkataanmu itu, maka pasti Allah SWT akan mengembalikan keadaanmu seperti dulu kala.

Selanjutnya malaikat itu menemui orang yang dulunya botak dan hina. Maka dengan perkataan yang sama pula orang sopak melakukan penolakan, alias tidak mau memberikan sebagian rizkinya. Maka malaikat itu mengatakan perihal yang sama terhadap orang botak yang diberikan karunia Allah tersebut, “ Jika kamu berdusta, maka Allah SWT akan mengembalikan keadaanmu seperti sediakala.” 

Malaikat pun menyamar lagi dan datang kepada orang yang dulunya buta dan menyedihkan, kemudian malaikat bertanya dengan maksud yang sama seperti diungkapkan kepada dua orang sebelumnya. Maka orang buta itu menjawab : “ Aku dulunya pernah menjadi orang buta kemudian Allah SWT telah mengembalikan penglihatan kepadaku. Maka sebab itu, ambillah mana saja yang engkau inginkan, dan tinggalkanlah apa saja yang engkau mau. Demi Allah, aku tidak akan menyulitkan dirimu, karena apa saja yang aku lakukan hanya untuk mengharap ridha Allah ‘’Azzawajalla.” Sembari malaikat pun tidak jadi mengambil hartanya, dan berkata : “ Sebenarnya kamu semua telah diuji, Sedangkan Allah SWT telah meridhaimu dan murka terhadap kedua sahabatmu ( yaitu orang sopak dan botak ).”

Kisah di atas dinukil dari hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah dari rawi keduanya, yaitu Imam Bukhari dan Muslim –dengan sanad shahih. Dari kisah di atas dapat ditarik sebuah hikmah, semoga Allah SWT senantiasa menjadikan kita semua menjadi orang yang selalu bersyukur. Tidak lupa terhadap segala apa pun yang telah dikaruniakan kepada kita, baik berupa harta, ketenteraman dan kenyaman dalam menjalani hidup di dunia. Artinya, apa saja yang kita miliki hanyalah amanat, sehingga harus menjalankan amanat itu dengan sebaik – sebaiknya. Ditulis Oleh : Arbamedia ( Ar.M )

Inilah Keutamaan Hari Tasyrik ( Hari Makan Dan Minum )

Gambar : muslimsincalgary
Usai melewati Idul Adha dengan penuh kebahagian, kini kita diingatkan kembali pada hari Tasyrik. Bertepatan pada tanggal 11, 12, 13 bulan Dzulhijjah, merupakan hari tanpa puasa, tidak seperti hari – hari sebelumnya yaitu hari tarwiyah dan arafah. Maka berdasarkan sabda Rasulullah SAW, sempat dijelaskan bahwa hari tasyrik merupakan hari makan dan minum. Ini artinya terdapat larangan untuk berpuasa di hari tersebut bukan..? maka sembari kita sambil menikmati hidangan yang lezat, jangan pernah melupakan bahwa hari tasyrik juga memiliki banyak keutamaan.

Fadhilah hari Tasyrik adakalanya masih terpaut dengan hari sebelumnya, yaitu hari raya Idul Adha. Meski demikian, selalu memupuk kebaikan di dunia, tentunya kiat yang perlu diterapkan yakni memperbanyak kebaikan itu sendiri terlebih pada hari yang diutamakan. Bahwasanya yang disebut kebaikan dunia ini lebih menusuk pada amalan – amalan yang diajarkan dalam tuntunan agama, beserta melakukan ibadah –ibadah fardhu maupun sunnah. Demikian agar kelak kita semua mendapat kebahagian akhirat yaitu surga. Amiiin.

Berikut beberapa keutamaan hari tasyrik yang perlu diketahui.

1. Hari Berdzikir
Memperbanyak dzikir kepada Allah SWT pada hari – hari tasyrik atau sebelumnya memang sangat dianjurkan, Baik itu berupa takbir, tahmid, dan berbagai bacaan dzikir yang lain terlebih seusai melaksanakan shalat fardhu lima waktu. Hal demikian juga tidak lepas dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW kala itu ketika mendapati hari – hari yang terbilang ( 3 hari setelah idul adha ). Maka memanjatkan kalimat – kalimat Agung ini tak hanya untuk menjernihkan hati dan pikiran kita, melainkan juga untuk memuliakan hari – hari yang diutamakan.

2. Tempat Meminta Kebaikan Dunia Akhirat
Siapa yang ingin mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Setidaknya kita tahu bahwa menjalani kehidupan di dunia, kiat manusia adalah mencari keuntungan menuju ke akhirat kelak. Sebagaiamana do’a Rasulullah SAW ketika datangnya hari tasyrik ini, maka beliau pun membaca do’a – do’a yang berkenaan dengan kebaikan dunia dan akhirat. Berdasarkan hadits diriwayatkan dari Annas bin Malik R.A, ia berkata :
 “ Bahwasanya do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi SAW yaitu Rabbanaa Aatinaa Fi dunya Hasanah Wa Fil Akhirati Hasahah, Wa Qinaa Adzaabannaar.” ( H.R Bukhari dan Muslim ).
Ini artinya bagi setiap orang muslim dianjurkan pula untuk memberbanyak membaca do’a tersebut, agar supaya Allah SWT selalu memberikan kebaikan baik di Dunia maupun di Akhirat kelak.

3. Hari Terkabulnya Do’a
Setiap orang mukmin akan selalu memanjatkan do’a kepada Allah SWT.  Tentunya pada tiap – tiap doa yang dibacakan selalu membawa maksud tersendiri. Semisal : doa untuk meminta pertolongan, agar dimudahkan dalam mencari rizki, agar selalu dikarunia rahmat-Nya di saat senang maupun duka. Pada hakikatnya terbukannya do’a tersebut hanya Allah yang menghendaki, namun berdoa pada waktu yang diutamakan merupakan langkah ikhtiar yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Pada hari tasyrik berlimpah keutamaan sebagai salah satu jalan keluar agar do’a itu mudah dikabulkan 

Sebagaimana dalam lathoif Al-ma’arif diterangkan sebuah riwayat dari Kinanah Al Qurasy, bahwasannya ia mendengar Abu Musa Al As’ari R.A berkhutbah di hari An Nahr ( Idul Adha ), dan berkata :
 “ Pada tiga hari setelah An – Nahr, itulah yang disebut oleh Allah SWT sebagai Ayyamul ma’dudat. Berdoa di hari tersebut tidak akan tertolak, maka berdoalah kamua semua dengan berharap kepada-Nya."
Tiga hari seusai Idul Adha yang dimaksud yaitu tangal 11, 12 dan 13 bulan Dzul hijjah, dimana pada hari tersebut penuh dengan keberkahan karena Allah SWT telah memuliakannya. Sehingga kita semua juga tidak boleh melewatkan untuk selalu memanjatkan do’a sebanyak – banyaknya bukan…?. Dan semoga kita tergolong menjadi orang yang mampu meraih semua keutamaan itu. Amin !

Ditulis Oleh : Rah. W / Arbamedia

Inilah Pelajaran Paling Berharga di balik Permainan Petak Umpet

image: nyoozee
Dunia anak kecil adalah dunia bermain. Di kampung-kampung permainan ini masih melekat di laku anak-anak, Mereka meriwayatkan hari-harinya dengan bermain bersama. Pola permainannya pun beragam dan unik-unik, mereka pun bemain di alam. Menyentuh tanah, bergabung dengan air, dan berbagai ketangkasan berada dalam permainannya. Bermain sambil belajar, itulah gaya anak-anak. Sementara yang dewasa bermain di dalam ruangan, bahkan enggan bermain lagi. Kita sempat melupakan konsep Ki Hajar Dewantara sebagai bapak Pendidikan, “Semua tempat adalah sekolah, dan semua orang adalah Guru” demikian kata Ki Hajar.

Kita pastinya mengenal permainan ini, permainan petak umpet. Tidak sekedar permainan tetapi pendidikan bagi si anak. Dengan pola permainan, lebih awal berkumpul bersama bahkan bisa dilakukan hanya dengan 2 orang. Kita mengambil perumpamaan 5 orang, pertama-tama mereka akan melakukan hom pim pa terlebih dahulu, bagi yang baru ikut melakukan permainan ini, proses alamiah anak akan mengajarkan temannya agar lekas tau, diberi tahu, sambil dipraktekkan. Ada proses komunikasi di dalamnya, sangat dekat antara teori dan praktek. 

Terlebih dahulu lagi, anak-anak akan membuat lingkaran, masing-masing mengulur dan menumpukkan tangan. Kenapa anak kecil sangat dekat dan sangat gampang akrab?, dikarenakan mereka bersentuhan, sentuhan-demi sentuhan membuat mereka dekat dan lekat. Refleks dengan nada yang beragam, tangan-tangan yang tertumpuk tadi di dalam lingkaran sembari di goyang-goyangkan. Seperti gelombang yang naik-turun, mengikuti mantra ‘’Hom pim pa alai hom gambreng’’,. Tangan-tangan itu akan lekas terbolak-balik sesuai dengan keinginan, jika yang terpilih sebagai contoh 3 besar orang yang menunjukkan punggung tangan, maka yang memilih telapak tangan akan kembali beradu. Dasar permainan hom pim pa  ini mengajarkan kepada anak untuk menerima kesepakatan.

Dua orang yang memilih telapak tangan akan kembali beradu, bukan hom pim pa lagi, tetapi pus pus. Simbol gunting pada jari tangan akan menggunting kertas, jika ada 5 jari teman melebar, berarti pemenangnya yang memilih gunting. sementara tangan yang digenggam berarti simbol batu, akan dikalahkan oleh kertas, sebab kertas bisa membungkus batu. Gunting akan kalah dengan batu, sebab gunting tak kan bisa menggunting batu. Ada obrolan dalam permainan ini, yang baru melakukan permainan ini sesama anak kecil akan melakukan logika-logika sederhana, sebagaimana yang disebutkan di atas. Yang kalah dalam permainan ini, maka akan menjadi “jadinya” atau si pencari.

Tanpa menunggu lama, yang “jadi” akan menghitung 1-10 dengan menutup mata sambil bersandar ke tembok. Tiang rumah atau pohon sebagai keabsahan jika si “pencari” benar-benar tidak melihat keempat temannya yang akan bersembunyi. Dengan girang, mereka berlari-lari setelah itu diam senyap. Permainan ini melahirkan sikap gentleman, menyepakati aturan permainan dan bertanggung jawab. 

Yang “jadi”, setelah hitungan genap sampai 10 kemudian berbalik dia tidak akan melihat temannya lagi, di sinilah puncak permainan di mulai. Teman-temannya telah bersembunyi di suatu tempat, Yang “jadi” akan mengalami sedikit tekanan psikologi, belajar kehilangan, Dari yang ada tiba-tiba menghilang, dari yang ramai tiba-tiba sunyi. Keadaannya kini sendiri, dia akan berjalan dengan hati-hati. Jika tanpa diketahui, Ada satu teman yang berhasil menyentuh teman yang ‘’jadi’’, maka ia akan kembali menjadi “jadinya”. Dalam kehilangan, ada ke hati-hatian, ada tanggung jawab, ada gejolak juga ada fokus. Sungguh menarik sekali .. ..

Dalam pencaharian, di seputaran rumah atau di lingkungan kampung pencaharian, yang “jadi” akan berjalan terbata-bata, hati-hati sejenak akan mengambil jarak di setiap suara yang dianggapnya mencurigakan. Anak-anak belajar taktik serta sigap. Bagi yang ditemukan sebagai contoh “temu Rina”, untuk pertama kalinya biasanya si Rina tetap melakukan upaya untuk menyentuh yang “jadi”. Bahkan dalam kelihaian, biasanya yang dicari secara spontan melakukan kerjasama, Rina terus melakukan pengalihan berharap yang “jadi” kepalang kabut. Jika suasana terus riuh dan si “jadi” tak sigap, maka yang lainnya akan bermunculan berupaya menyentuh, agar si “jadi” kembali menjadi “jadinya” atau bertugas mencari kembali. Menyentuh si ”jadi”merupakan sebuah kemenangan, meski hanya satu orang yang berhasil, namun akan menjadi kemenangan bersama. Bila si pencari berhasil tanpa sentuhan, maka Rina lah penggantinya.

Permainan ini bernilai sangat positif bagi anak, latihan mental, latihan ketangguhan, serta belajar kehilangan meski ada. Esok hari saat mereka kehilangan, mereka tak lantas menjadi manusia-manusia yang gampang rapuh, sebab mentalnya telah diasah dari permainan petak umpet. Sayangnya sebagian orang tua akan risih dengan permainan anak-anak ini, menganggap permainan ini membuat riuh dalam rumah atau lingkungan. 

Terlebih lagi anak-anak dimarahi, diminta untuk berhenti bermain, karena dianggap mengganggu ketenangan. Secara logika, Orang tua yang demikian secara tak langsung ikut andil menghentikan proses belajar si anak. Namun, Alangkah lebih bahagianya melihat anak-anak aktif bermain sambil belajar, dari pada melihat mereka terbaring karena sakit. Biarkan mereka bermain sambil belajar, berkreasi, selama dalam kondisi lingkungan yang terjaga, serta waktu yang terkontrol.

Penulis : Acca / Arbamedia