Ketahui Niat dan Tata Cara Shalat Dhuha

Gambar: The Secular B
Shalat dhuha merupakan ibadah sunah yang dikerjakan pada waktu naiknya matahari setinggi tombak, antara jam 8 / 9 hingga tergelincirnya matahari ( menjelang zawal ). Shalat sunah ini masuk dalam waktu yang diistimewakan, karena memiliki banyak fadhilah jasmani maupun rohani. Allah SWT telah menyebutkan betapa pentingnya waktu dhuha demi kehidupan umat manusia di bumi dalam menggapai keberkahan. Q.S. Asy Syams ayat 1 – 10, berbunyi :

“ Demi matahari dan cahayanya di pagi hari (1), dan bulan apabila mengiringinya (2), dan siang apabila menampakkannya (3), dan malam apabila menutupinya (4), dan langit serta pembinaannya (5), dan bumi serta penghamparannya (6), dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) (7), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (8), sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu (9), dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (10) ”.

Cara shalat dhuha pun telah diajarkan dalam ajaran syariat guna mengisi kesempatan berawalnya terbitnya matahari itu dengan beberapa amalan sunah, agar menoreh keutamaan / manfaatnya. Sebaliknya, tidak satu pun umat islam yang boleh mengotori kelapangan Allah ini dengan keburukan, bahkan kemaksiatan.

Lantas, Bagaimana Niat untuk Shalat Dhuha ?

اُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَ  

Artinya : “ saya berniat untuk shalat dhuha dua rakaat, menghadap kiblat sekarang karena Allah SWT ”

Berapakah Batas Rakaat Shalat dhuha Dapat Dilakukan ?

Batas paling sedikit untuk jumlah rakaat dalam mengerjakan shalat dhuha yaitu 2 rakaat. Sedangkan batas kesempurnaannya adalah 8 rakaat ( berdasarkan keterangan dalam Fiqh al-Manhaji ( 1 : 218 ). Batas sempurna ini memang pernah disebutkan dalam sebuah hadits shahih,  diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari perawinya yaitu :

Ummu Hani’ binti Abi Thalib, katanya :  “ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengerjakan sholat dhuha sebanyak delapan rakaat. Pada setiap dua rakaat, beliau mengucapkan salam ”.

Secara umum kita mengetahui bahwa paling sempurnanya jumlah rakaat shalat dhuha yaitu 4 rakaat. Selain diperkuat dengan hadits - hadits mashur, jumlah ini telah tercantum dalam  fathul wahhab 1 : 56, yang menerangkan jumlah rakaat shalat dhuha yaitu empat rakaat sedangkan jumlah maksimalnya 12 rakaat. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa untuk batas maksimalnya tidak ditentukan ( tidak ada batas ). Artinya  shalat dhuha bisa dilakukan dengan jumlah rakaat berapa pun sampai habisnya waktu dhuha.

Tata Cara Shalat Dhuha Sebagai Berikut :

1. Berniat bersamaan dengan Takbiratul Ikhram
2. Membaca do’a iftitah
3. Membaca surat Al-Fatihah
4. Disunahkan membaca surat Asy-syams pada rakaat awal dan Adh-dhuha ( rakaat kedua )
5. Ruku’ ( secara tuma’ninah ) & membaca tasbih tiga kali
6. I’tidal ( dengan tuma’ninah ) dan membaca do’anya
7. Sujud disertai tuma’ninah, kemudian membaca tasbih tiga kali
8. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah, lalu membaca do’a
9. Sujud kedua sambil tuma’ninah, kemudian membaca tasbih

Jika rakaat pertama shalat dhuha sudah dikerjakan, maka sekarang gilirannya untuk berdiri kembali mengerjakan rakaat kedua. Caranya sama sebagaimana rakaat awal, yaitu berdiri membaca surat Al-fatihah dan seterusnya, sampai selesai rakaat kedua. Selanjutnya ditutup dengan tasyahud akhir, lalu membaca salam dua kali. Perlu diingat, bahwa bacaan shalat dhuha tidak berbeda jauh dengan shalat sunah pada umumnya, yang membedakan hanya waktu & niatnya saja. 

Do’a Shalat Dhuha Pada Umumnya Yaitu :
Klik gambar untuk memperbesar
Artinya : “ Ya Allah, Sesungguhnya waktu Dhuha itu merupakan waktu Dhuha-Mu, keindahan itu keindahan-Mu, kecantikan itu merupakan kecantikan-Mu, kekuatan itu adalah kekuatan-Mu, kekuasaan itu kekuasaan-Mu dan perlindungan itu perlindungan-Mu”. “ Ya Allah, Apabila rezekiku masih di atas langit, Maka turunkanlah dan Apabila masih di dalam bumi, Maka keluarkanlah, jika sukar maka mudahkanlah, jika haram maka sucikanlah, jika masih jauh maka dekatkanlah, berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba - hamba-Mu yang shaleh ”.

Shalat dhuha identik dengan datangnya pintu rezeki bagi umat yang mengimaninya. Allah SWT senantiasa berfirman mengenai perkara demikian, supaya umat manusia mampu mengingat kembali betapa pentingnya kalau mengerjakan shalat dhuha dapat membawa kebaikan bagi kehidupan mereka. Tidak hanya shalat,  melakukan dzikir pun atau melantunkan bacaan surat – surat dalam kalamullah tetap bisa menjadi amalan yang diridhoi-Nya. Jika seluruh tata cara shalat dhuha sudah kita terapkan, semoga kita semua tergolong orang yang mendapat keberkahan dan dimudahkan semua urusan baik duniawi maupun ukhrowi. Amiin...

Ditulis Oleh : Arbamedia  /  Ar. M

Rahasia Keutamaan Menjalankan Sholat Dhuha

Gambar: thoughtco
Dhuha tidak dipungkiri menjadi waktu baik untuk mengerjakan ibadah. Sayangnya kita terkadang merasa berat untuk menghiasinya dengan shalat. Sering kali banyak umat mengabaikannya karena mungkin bertepatan dengan kesibukan jam kerja atau kebutuhan hidup lainnya. Berbarengnya waktu shalat sunnah itu dengan perkara demikian, tentu harus jadi perhatian kembali bagi kita semua. Tapi untuk orang beriman, mengerjakan sholat dhuha tidaklah sulit. Karena waktu dhuha diyakini mampu membedah keberkahan yang selama ini dicari oleh kebanyakan orang.

Akhirnya, berbagai kesibukan pun ditinggalkan, kemudian menggunakan waktu naiknya matahari sampai menjelang zawal (  tergelincirnya matahari ) guna melaksanakan ibadah sunnah.  Sekarang, apakah Anda semua mau untuk menyisihkan sedikit waktu luang melaksanakan shalat dhuha seperti  dua rakaat / empat rakaat saja ? Kalau memang terasa masih berat, cobalah sesekali untuk melatih diri dalam mengerjakannya. Meski sunnah, bukan berarti  harus begitu saja ditinggalkan. Karena siapa mengira shalat dhuha mampu menoreh keutamaan atau keistimewaan yang mungkin belum dapat kita ketahui secara gamblang. 

Berikut Beberapa Keutamaan Jika Menjalankan Shalat Dhuha :

1. Dibukakan Pintu Rizki
Sang Pencipta alam semesta telah memberikan sebuah keutamaan akan mencukup rezeki seseorang bilamana mereka gemar melaksanakan shalat dhuha. Jadi tak ada ruginya kalau memang kita berkeyakinan mengerjakannya, karena amalan ini cukup besar dalam membantu menyempurnakan  iman, mempermudah jalan untuk mencari nafkah serta ridho - Nya.

Allah SWT telah berfirman dalam hadits qudsi diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dari perawi keduanya yaitu Imam Abu Darda dan Abu Dzarr ra, dari Rasulullah SAW, dari Allah Azza Wajalla berfirman : ” Wahai anak Adam, ruku'lah ( Shalatlah ) kepada-Ku di awal siang dengan empat raka'at maka Aku akan mencukupimu di akhir siang itu ”.

Ketika Sholat dhuha dilakukan pada sela – sela waktu kerja, apakah berarti amalan tersebut akan memotong waktu kerjamu ? Secara logika mungkin iya, atau tidak sama sekali jika bisa mengatur waktu misalnya ketika waktu istirahat, atau sebelum berangkat kerja  jika memiliki jadwal agak siang.  

2. Mendapat Rumah di Surga Kelak
Surga memang jadi idaman bagi semua umat manusia, karena di dalamnya berlimpah sebuah kenikmatan abadi. Tapi apakah Allah SWT telah menyediakan rumah untukmu ketika di surga kelak ? Boleh kita berpikir, kalau kita ingin membangun rumah di Dunia, maka tentu kita harus bekerja keras, kemudian mendapat sejumlah uang untuk membelinya. Usaha itu juga diperuntukkan di akhirat, kalau Anda ingin rumah di surga maka rajin – rajinlah melakukan shalat dhuha.

Karena berdasarkan hadits Nabi dalam Shahih al-Jami`: 634,  Rasulullah telah bersabda : “ Barang siapa mengerjakan sholat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga.”

3. Diberikan Pahala Umrah
Kita mengetahui secara jeli, bagaimana Allah SWT telah memberikan ganjaran terhadap orang – orang shalih dan beriman. Demikian shalat dhuha saat dikerjakan, maka fadhilah – fadhilahnya bisa sepadan dengan pahala yang mungkin belum dapat kita kerjakan karena terbengkalai masalah biaya yaitu umrah. Keutamaan itu memang ada dalam hadits dari Sahabat Abu Umamah, Rasulullah SAW bersabda :
 “ Barang siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barang siapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan umrah ” ( rujukan hadits dalam kitab Shahih al-Targhib: 673 )

4. Mendapat Ampunan dari Allah SWT
Keutamaan shalat dhuha salah satunya yakni terbukanya pintu ampunan Allah SWT.  Hidup manusia di dunia akan dihadapkan oleh berbagai kesalahan, sehingga mereka yang beriman akan selalu belajar dari dosa apa yang pernah mereka perbuat. Sebelum melakukan perbaikan, meminta ampunan kepada Sang Pencipta alam merupakan sebuah kewajiban. Disinilah kita semua dapat memanfaatkan waktu shalat dhuha menjadi kesempatan meminta ampunan itu.  Sesuai dengan hadits  Nabi, diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut : “ Shalatnya orang-orang bertaubat adalah pada saat berdirinya anak unta karena teriknya matahari. ” 

Perlu Anda tahu bahwa maksud dari kalimat “ berdirinya anak unta karena teriknya matahari ” dalam hadits di atas yaitu waktu dhuha.  Sedangkan menurut sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Iman At-Tirmidzi, berbunyi : “ Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” Jadi, shalat dhuha memang waktu terbaik buat kita untuk mengharapkan permintaan ampun terhadap dosa apa saja yang pernah kita lakukan, berjanji untuk tidak mengulanginya kemudian mencoba menggantikan semua dosa itu dengan amalan kebaikan.

5. Menjadi Orang Beruntung
Orang selamat dari siksaan api neraka, mereka termasuk orang beruntung. Sama Halnya orang gemar shalat dhuha, mereka akan mendapat keberuntungan di dunia dan akhirat. Terdapatnya keberuntungan tersebut pernah diibaratkan oleh Rasulullah dalam hadits beliau, dari Abdullah bin Amr bin Ash, RA, ia berkata : “ Rasulullah SAW telah mengirim sebuah pasukan perang, kemudian  Bersabda: 
“ Perolehlah keuntungan ( ghanimah ) dan cepatlah kembali ”. Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan ( tempat ) perang dan banyaknya ghanimah ( keuntungan ) yang akan diperoleh dan cepat kembali ( karena dekat jaraknya ). Lalu Rasulullah bersabda “ Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka ( musuh yang akan diperangi ), paling banyak ghanimah ( keuntungan )nya dan cepat kembalinya? Mereka menjawab; “ Ya, kemudian Rasul bersabda: “ Barang siapa berwudhu , kemudian masuk dalam masjid untuk melakukan sholat Dhuha, dialah yang paling dekat tujuannya, lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya.” ( Rujukan hadits dalam Shahih At-Targhib : 666).

Ibarat keberuntungan  itu dapat diartikan sebuah tujuan dalam sebuah keinginan yang cepat terpenuhi, entah dalam mencari ridha Allah atau untuk tujuan baik tertentu. Ini artinya,  Keutamaan shalat dhuha akan menghindarkan kita semua dari kerugian, serta tidak sampai membuat diri tergolong salah satu orang yang bangkrut di hadapan Allah SWT.
6. Menjadi Suri Tauladan akan Wasiat Rasulullah SAW
Mengingat kembali tentang  wasiat Rasulullah  yang diberikan oleh Abu Hurairah R.A bahwa terdapatnya  tiga pesan rasul yang amat penting baginya.  Seperti kita kenal bahwa Rasulullah menjadi suri tauladan baik bagi umat seluruh alam. Lantas, apakah kita sebagai umatnya tidak mau mencontoh mengenai wasiat khusus yang diberikan kepada sahabat Nabi ?

Berdasarkan hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari perawinya  Abu Hurairah R.A, berkata : “ Kekasihku ( Rasulullah ) memberikan pesan ( wasiat ) kepadaku dengan tiga hal yang tidak pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal nanti. Yaitu puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha, dan tidur dalam keadaan sudah mengerjakan shalat witir.”

7. Sedekah untuk Semua Persendian Tubuh
Tidak memiliki cukup harta bukan berarti kita tak mampu untuk bersedekah.  Sholat dhuha memberikan keutamaan / fadhilah, barang siapa rajin mengerjakan ibadah sunnah di waktu dhuha, maka sama halnya ia telah bersedekah untuk seluruh persenian tubuh mereka. Manfaat demikian telah dijelaskan secara gamblang berdasarkan sabda Beliau yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari perawinya sahabat Abu Dzar al-Ghifari, Bahwasannya Rasulullah bersabda :

“ Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih ( kalimat subhanallah ) adalah sedekah, setiap tahmid ( kalimat Alhamdulillah ) adalah sedekah, setiap tahlil ( kalimat lailahaillallah ) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala.”

Semua keutamaan sholat dhuha di atas menunjukkan bahwa begitu pentingnya waktu dhuha bagi seluruh umat manusia di bumi.  Sampai – sampai Allah SWT telah berfirman mengenai waktu tersebut di beberapa surat dalam Al – Quranul karim seperi : Q.S As-Syams dan Adh-Dhuha. Oleh karena itu, selimutilah waktu tersebut dengan memperbanyak amal shalih, serta janganlah mengotorinya dengan kejelekan.
Ditulis Oleh : Arbamedia  /  Rah. W

Inilah 4 Pesan Rasulullah Jika Anda Bermimpi Baik dan Buruk

Mimpi buruk kerap membawa hati gelisah, sedih, bahkan takut, sedangkan mimpi baik membuat hati terasa senang. Terkadang orang menganggap mimpi hanya sebatas buahnya tidur, namun tidak sedikit pula orang menanggapi mimpi sebagai perkara serius yang harus ditelusuri kebenarannya. Karena bisa jadi mimpi itu berpeluang membawa pertanda baik  bagi kehidupan mereka, sehingga mereka mencoba menceritakan mimpi baik kepada orang lain.

Lalu bagaimana tanggapan Rasulullah SAW mengenai mimpi baik dan buruk ini….?, Ternyata Baginda Rasul pun menjelaskan kepada seluruh umatnya tentang apa itu mimpi buruk, dan apa mimpi baik itu. Kemudian Rasulullah di dalam sabdanya menunjukkan bagi setiap umat untuk tetap memperhatikan cara menanggapi mimpi yang benar. Lantas bagaimana pesan Rasulullah sendiri mengenai kedua mimpi tersebut..?, Berikut ulasannya :

1. Jika Bermimpi Buruk, Hendaknya Meludah Ke Sebelah Kiri Sebanyak Tiga Kali
Mimpi buruk bukan sekedar membuat hati tambah gelisah, namun mimpi buruk sesuai sabda baginda Rasul, yaitu merupakan mimpi yang datang dari setan. Setan selalu saja membuat hati manusia ragu, sedih, & gelisah. Melalui mimpi pun setan mampu menancapkan pikiran-pikiran buruk terhadap seseorang. 

Oleh karenanya mimpi buruk dari setan ini dapat ditangkal dengan cara meludah ke sebelah kiri sebanyak tiga kali. Hal itu memang sebagai simbol perlawanan terhadap mimpi buruk tersebut, sebagaimana kita menjadikan setan itu musuh yang nyata. Demikian itulah anjuran Nabi kepada umatnya. 

2. Bila Mengalami Mimpi Buruk, Berlindunglah (Memanjatkan Do’a)
Sebaik-baiknya tempat berlindung hanya kepada Allah semata. Karena Allah Sang Maha Kuasa selalu mengayomi bagi siapa pun makhluk yang mengharap perlindungan dari Nya. Mimpi buruk terkadang membuat diri menjadi takut. Takut dihantui oleh kejadian mimpi itu hingga menyebabkan penafsiran yang tidak terarah. Maka dari itu mintalah perlindungan Allah / berdo’a agar mimpi buruk tak sampai menimbulkan ketakutan di hati & pikiran. Berikut do’a ketika mimpi buruk :

أَعُوْذُ بِاللهِ َمِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم

Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk

Lalu membaca Do'a :

اللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ وَسَيِّــئَاتِ الْأَحْلَامِ

Artinya: Ya Allah sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari segala perbuatan setan dan dari keburukan mimpi ini
 

3. Jika Bermimpi Baik, Jangan Diceritakan Kecuali Pada Orang Tertentu
Mimpi baik boleh diceritakan namun hanya pada orang-orang tertentu. Siapa sajakah itu…?. Ada beberapa kriteria orang yang boleh anda ceritakan terhadap mimpi baik sesuai hadits berikut :

Diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A, bahwa Baginda Rasul bersabda “ Jangan menceritakan sebuah mimpi, kecuali kepada seorang alim atau seorang yang memberi nasihat,” ( H.R. At-Tirmidzi no. 2280 / Shahih).

Berdasarkan riwayat lain, beliau bersabda, “ Jangan Ia ceritakan kecuali kepada seorang bijak atau kepada orang yang mencintai,” (H.R. Abu Dawud dan at-Tirmidzi  / Hasan Lighairihi).

Demikian itu bertujuan agar mimpi baik tidak sampai menimbulkan takwil mimpi yang tidak dibenarkan. Oleh sebab itulah, ‘’ Mimpi Baik ’’ Sebaiknya tidak diceritakan apabila bisa menimbulkan persepsi bermacam-macam, hingga membingungkan, terlebih sampai mengurangi ketakwaan. Ingatlah sebenarnya mimpi baik itu sejatinya berasal dari Allah SWT.

4. Jangan Menceritakan Mimpi Buruk Terhadap Siapa Pun
Mimpi buruk tidak boleh diceritakan terhadap siapa pun. Karena sejatinya mimpi buruk datang dari setan terlaknat. Dimana setan telah membuat permainan nyata pada mimpi buruk itu. Setan mencoba menggoyahkan hati manusia agar mereka ragu atas kebesaran Allah SWT. Oleh karena itu, Rasulullah melarang untuk menceritakan mimpi buruk ketika dialami oleh umatnya. 

Beberapa pesan Rasulullah di atas memang sesuai dengan hadits berikut ini :

Diriwayatkan dari Abu Qatadah, Ia berkata, aku pernah bermimpi menyakitkanku hingga aku mendengar Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: " Mimpi baik datang dari Allah, Barang siapa yang bermimpi baik maka janganlah menceritakannya kecuali kepada orang yang dia cintai. Dan jika dia bermimpi buruk maka hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya tiga kali, kemudian meminta perlindungan Allah dari kejahatan setan dan godaannya. Dan janganlah dia menceritakannya (mimpi buruk) kepada siapa pun, niscaya mimpi itu tidak akan membahayakannya."( H.R. Imam Muslim  no. 4198 )

Hadits dari sahabat Jabir R.A juga menceritakan, bahwasanya Nabi. SAW bersabda: " Barang siapa bermimpi melihatku dalam tidurnya, maka sesungguhnya dia benar-benar melihatku, Karena setan tidak dapat merubah bentuk seperti bentukku." Beliau juga bersabda: “ Apabila seseorang dari kalian bermimpi buruk, maka janganlah ia menceritakan permainan setan dengannya ketika tidur itu kepada siapa pun.” (H.R. Imam Muslim no. 4209)

Mimpi baik merupakan tanda kebesaran Allah yang diberikan kepada setiap makhluknya. Sedangkan kedatangan mimpi buruk merupakan sebuah kabar buruk yang kerap dijadikan setan sebagai alat permainan mengelabui manusia agar mereka gelisah, sehingga membuat hati menjadi takut akan mimpi yang dialaminya.

Dua Orang Ini Membuat Allah SWT Tertawa Melihatnya

image from: twcenter.net
Allah SWT selalu memberi peluang bagi setiap makhluk-Nya, peluang berbuat kebajikan dan memperbaiki diri.  Sedangkan keadaan manusia ketika hidup di dunia pun juga bermacam-macam.  Berdasarkan tingkat keimanan mereka masing-masing, seseorang tentu ada yang ingkar, beriman, tidak taat kemudian bertaubat sampai akhirnya menemukan kebenaran hakiki, bahkan orang taat kemudian terpengaruh hawa nafsu akhirnya membelot. 

Dilihat dari faktor kehidupan,  Manusia bisa saja merasa sedih, gelisah, gembira, tertawa, dan sebagainya. Itulah keragaman sifat manusia sehingga mampu menciptakan ekosistem kehidupan penuh warna. Semua itu Allah yang menghendakinya bukan…?, Oleh karenanya Sang Maha Pencipta pun turut tertawa ketika melihat dua orang lelaki mengaplikasikan prilaku mengagumkan, sampai keduanya masuk surga.

Kisah tertawanya Allah SWT ini memang sudah ditetapkan karena terdapatnya hadits nabi menjelaskan demikian.  Ketetapan sifat “ Tertawa ” Allah juga diutarakan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah, bahwa para ulama salaf bersepakat menetapkan terdapatnya (sifat) “Tertawa” pada  Allah SWT. Namun perlu diingat, bahwa seorang muslim harus tetap berpegang teguh pada Kitabullah dalam Q.S. Asy-Syura ayat 11, artinya “ Tiada sesuatu pun serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. ” 

Tertawanya Allah tidak sebagaimana sifat makhluk-Nya. Oleh sebab itulah kita wajib menerima tanpa menyelewengkan makna, menolak, maupun mengumpamakan sifat-sifat Allah SWT dengan dzat lainnya. 

Diriwayatkan  dari Abu Hurairah R.A dari rawi keduanya, Imam Bukhari & Muslim ( Shahih Muslim No. 3505) bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : " Allah Tertawa terhadap dua orang yang saling membunuh, Tapi keduanya masuk surga. " 

Para sahabat bertanya.. : " Bagaimana demikian itu bisa terjadi Ya Rasulullah? ",  Beliau (Rasul) menjawab : 

1. " Seseorang Terbunuh Kemudian Dia Masuk Surga ”
Allah memasukkan  surga kepada siapa pun sesuai kehendak-Nya. Termasuk orang terbunuh karena alasan tertentu ketika terjadi perselisihan di antara keduanya. Bagi pembunuh mendapat balasan setimpal atas perbuatannya. Barang siapa membunuh manusia bukan karena orang itu menimbulkan kerusakan atau bukan karena orang itu membunuh orang lain,  maka celakalah mereka.

Perbuatan pembunuhan itu seolah-olah dosanya sama seperti membunuh seluruh manusia di bumi.  Allah SWT tidak segan-segan memberi balasan setimpal kepada orang berbuat dzalim. Si pembunuh juga bakal merasakan panasnya api neraka, dimana siksa akhirat tentu menjadi penyiksaan paling kejam bagi setiap orang yang membangkang perintah syariat islam, terlebih sampai membunuh orang lain. 

2. “ Kemudian Allah menerima taubatnya seorang Pembunuh tersebut, dan menunjukinya untuk masuk Islam, setelah itu dia berjihad di jalan Allah dan akhirnya mati syahid."
 
Ternyata Allah SWT berkehendak lain, Bukannya pembunuh itu disiksa ke dalam ganasnya api neraka. Namun ia telah dimasukkan surga seperti orang yang ia bunuh sebelumnya. Lantas mengapa demikian….?, Allah telah menerima taubatnya si pembunuh, karena ia mau bertaubat kemudian masuk Islam.

Ia juga mau berjihad dijalan Allah, sebuah perkara mulia yang perlu diterapkan bagi setiap orang muslim. Ini berarti Dia telah berusaha memperbaiki kualitas diri agar menjadi seorang yang benar-benar bertaubat, mengharap segala dosa-dosanya diampuni dengan  menegakkan agama Allah. Sesampai waktu ajalnya menjemput, Dia tergolong sebagai orang mati syahid. Kemudian Allah SWT memasukkannya ke dalam surga, sehingga mendapatkan kenikmatan abadi di dalamnya.

Kisah tertawanya Allah atas kejadian tersebut dapat dipetik kesimpulan, Bahwa Allah Sang Maha Agung tidaklah sulit bagi-Nya untuk membuat manusia berakhlak buruk menjadi mulia. Dialah dzat yang Maha Membolak-balikkan hati setiap makhluk, berkuasa atas segalanya, mengampuni dosa-dosa, serta memberikan pertolongan kepada hamba yang berkenan meminta pertolongan dari-Nya. Ingatlah kembali, bahwa sifat  tertawanya Allah  tidaklah seperti sifat makhluk-Nya. Jadi  kalimat “Allah Tertawa” hanya cukup diyakini sebagai landasan keimanan kita kepada-Nya.

Hindari Perkara ''Sepele'' Ini Jika Tak Ingin Ditertawakan Setan

image: combiboilersleeds.com
Setan menjadi musuh nyata bagi manusia beriman. Mereka tak berhenti menggoda manusia sampai mau diajak ke jalan sesat. Setan marah apabila ada hamba Allah SWT menjaga ketaatannya. Sebaliknya, setan bergembira apabila orang itu berbuat ingkar, berbuat kedzaliman, serta enggan beribadah. Bahkan setan bisa jadi tertawa ketika ada hal sepele diperbuat manusia, hingga mereka tak menghiraukan ajaran yang seharusnya diterapkan.

Diriwayatkan dari abu Hurairah R. A, bahwasanya suatu ketika Rasulullah SAW menjelaskan mengenai perilaku yang dibenci oleh Allah, karena dirasa etika itu tidak baik untuk dibiasakan, sebab telah menjadi pertanda bahwa setan sedang tertawa di rongga tubuh manusia. Sehingga Allah SWT menyukai suatu perilaku lain yang lebih baik dari itu.

Orang yang ditertawakan setan ternyata bukan hanya ketika seorang itu gampang menyelewengkan perintah-perintah syariat Islam. Namun setan juga menempel di rongga tubuh seseorang sambil tertawa atas perilaku yang dianggap remeh tapi perlu diperhatikan. 

Lantas, Apa perkara yang ditertawakan oleh setan itu…?

Baginda Rasul SAW bersabda : " Bersin itu dari Allah, sedangkan menguap berasal dari setan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, Hendaknya meletakkan tangannya di mulut. Dan bila sampai mengucapkan (kalimat) ; haaah.., aah, Sesungguhnya setan tertawa dalam rongganya. Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Apabila seseorang mengucapkan: Haaah.. aah saat menguap, Sesungguhnya setan tertawa di dalamnya." (Hr. Imam Tirmidzi ), Menurut Abu Isa hadits ini Hasan Shahih.

Pada umumnya saat seseorang menguap, demikian merupakan pertanda alami tubuh mengantuk atau kurang tidur bukan….?. Namun di dalam Islam telah diajarkan bagaimana tindakan tepat untuk menghadapi persoalan ini. Hendaknya perhatikanlah etika menguap yang dibenarkan.

Maksud menguap yang dibenci Allah sesuai penjelasan hadits di atas, yakni etika seorang menguap tanpa mengikuti ajaran syariat Islam. Kemudian maksud “Setan Tertawa” bisa melambangkan rasa kegembiraan setan terhadap orang  menguap tanpa menutup mulut dengan tangannya. Menguap semacam itu dapat membuat mulut mereka mengeluarkan bunyi “Haaah” lalu membuat setan tertawa. Sehingga Allah pun lebih menyukai orang yang bersin ketimbang orang menguap.

Mengapa…?, Karena ketika seseorang bersin, mereka dianjurkan mengucapkan “Alhamdulillah” kemudian bagi orang yang mendengarkannya diharuskan menjawab “Yarhamukallah”. Hal demikian memang berdasarkan hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A sebagai berikut :

Rasulullah SAW bersabda " Sesungguhnya Allah SWT menyukai bersin dan membenci menguap, jika salah seorang dari kalian bersin lalu mengucapkan; "ALHAMDULILLAAH", wajib bagi yang mendengarnya mengucapkan; "YARHAMUKALLAH". Sedangkan mengenai ‘’Uapan’’, jika seorang dari kalian menguap, hendaknya menangkal sebisanya dan jangan sampai mengucapkan; "aah, aah, " Karena demikian itu dari setan, ia akan menertawakannya." ( H.R. Imam Tirmidzi ) hadits Hasan Shahih menurut Abu Isa, (lebih kuat dari hadits Ibnu Ajlan). 

Intinya, Menguap boleh-boleh saja asalkan kondisi mulut ditutup, serta jangan sampai mengeluarkan bunyi dari mulut. Apalagi menguap juga diklaim membuat orang lain tertular. Jadi, penuhilah etika yang benar saat Anda menguap jika tak ingin menjadi golongan orang yang ditertawakan setan. Sehingga perilaku tersebut juga tidak sampai menjadi kebiasaan buruk, baik dalam segi syariat maupun hubungan etika bersosial.