Ingatlah Kalimat Ini Jika Ingin Mendapat Tabungan Berharga di Surga

Gambar: abovewhispers
Manusia memiliki wadah untuk mengingat Tuhan mereka. Jika wadah itu dibiarkan kosong maka ia menjadi tak bernilai. Sebaliknya jika wadah tersebut dialiri oleh kalimat kalimat yang agung, maka hidup akan terasa bak sungai yang terus mengalir indah –hingga airnya dapat bermanfaat untuk menghidupi kebutuhan makhluk di bumi. Ini sama halnya seperti manusia diciptakan agar mereka taat, beribadah dan berdzikir kepada Allah SWT.

Ibarat rumah yang indah, baik bagian luar maupun dalam. Tentu di situ akan membutuhkan sebuah alat untuk memperindahnya bukan…? Begitu pula manusia, satu alat terpenting untuk memperindahnya yaitu berdzikir kepada Allah SWT. Selalu mengingat akan keagungan-Nya, tidaklah akan menjadikan kita sebagai sosok makhluk yang merugi. Justru jika manusia selalu berdzikir kepada-Nya, mereka akan mendapat jaminan keberuntungan di dunia dan akhirat.

Mengapa…? Batasan seseorang yang ingat dan lalai memang seperti tirani kehidupan dan kematian. Bila manusia mudah lalai dari Tuhan-nya, dalam menjalani hidup pun bisa dikatakan layaknya orang hidup tapi hatinya mati. Dari sini akhirnya muncullah sebuah kegelisahan, tidak tenteram, serta tiada rasa nyaman yang mengitari.

Itulah mengapa mengingat kalimat – kalimat Allah yang Maha Agung, menjadi pondasi penting untuk kelangsungan hidup setiap orang beriman. Tidak hanya menjadikan hati manusia semakin tenteram, tapi ada kalimat – kalimat dzikir yang mampu menjadi perbendaharaan  berharga di surga kelak. 

Dalam hadits Shahih Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dengan sangat jelas, dari rawi keduanya yaitu sahabat Abu Musa r.a, ia berkata : Bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda : “ Maukah aku tunjukkan sebuah benda berharga dari perbendaharaan surga..? Aku menjawab : Ya Rasulullah..! Kemudian Rasulullah SAW bersabda : 

“ Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah ”.
( artinya : Tiada daya dan tiada upaya kecuali dengan pertolongan Allah SWT )

Kini kita semua tahu bahwa selalu berdzikir kepada Allah SWT, akan menjadi amal ibadah yang penuh pahala. Selain itu hal demikian akan mengingatkan, bahwa selama hidup di dunia kita pasti selalu membutuhkan perlindungan dan pertolongan-Nya. 

Dari apa yang diberitakan oleh Rasulullah SAW tersebut, menunjukkan betapa besar kecintaan Baginda Rasul SAW terhadap umatnya. Karena sebagai sosok pendidik umat, ketika beliau menemukan mereka dalam keadaan baik / taat kepada Allah SWT, maka Nabi pun akan semakin mencintai mereka semua. Yakni dengan memberikan kabar yang membuat mereka merasa gembira, sehingga membuat mereka berbondong – bondong untuk berdzikir kepada Allah. Tak lain yaitu dengan mengucapkan kalimat “ Laa Hawla wa Laa quwwata Illa Billah ”. Dimana kalimat ini memiliki keutamaan sebagai tabungan paling berharga yang akan mereka dapatkan di surga kelak.

Kalimat dzikir tersebut juga akan mengingatkan kita, bahwa hanya Allah SWT semata yang memiliki sumber kekuatan abadi, sehingga tiada keraguan bagi kita semua untuk meminta perlindungan kepada-Nya. 
Ditulis Oleh : Arbamedia  /  Ar. M

Ketika Wajah Rasulullah Hendak Dibakar Setan, Api Padam Dengan Doa Ini

Gambar: pixabay
Setan merupakan musuh yang nyata bagi setiap manusia. Mereka dapat menggoda orang beriman melalui berbagai macam cara, tanpa adanya belas kasihan. Baik siang maupun malam, mereka terus berantusias untuk membuat jebakan –guna mengelabui keimanan orang shalih, agar dapat terjerumus ke tirani kedzaliman. Selama kita masih memiliki nyawa, begitu pun setan tidak berputus asa untuk menggoda.

Termasuk Rasulullah SAW sendiri yang menjadi suri tauladan bagi seluruh makhluk di Bumi, tidak lepas dari ancaman jahat setan yang terkutuk. Tapi berkat kebesaran Allah SWT,  Baginda Rasul berkali – kali berhasil membuat setan menghindar jauh dari Beliau. Pada malam hari, suatu ketika setan turun berniat untuk mencelakai Rasulullah SAW dengan api yang dibawanya. Seketika itu pula Rasulullah SAW membaca doa untuk meminta perlindungan kepada Allah SWT. Maka dari situ sirnalah bara api setan itu, sehingga tidak sampai mengenai tubuh Beliau.

Melalu hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad ( Hadits no. 14913 ), dari Abu At – Taiyah, ia bertanya kepada Abdurrahman bin Khanbas At Tamimi R.A, pada waktu itu usianya sudah tua : “ Apakah kamu pernah bertemu dengan Rasulullah..?

Sahabat Abdurrahman menjawab : “ Ya “ kemudian dia bertanya lagi :  “ Apa yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW pada malam hari, ketika terdapat tipu daya dari setan..?
Maka Abdurrahman menceritakannya : “ Sesungguhnya setan datang secara bergemuruh kepada Rasulullah SAW pada malam itu, mereka berasal dari lembah – lembah dan bukit – bukit. Di antara mereka ada yang membawa obor di tangannya hendak membakar wajah Rasulullah SAW, lalu malaikat Jibril datang kepada beliau ( Nabi ) dan berkata : “ Wahai Muhammad katakanlah..! ” Rasulullah bertanya kepada Jibril : “ Apa yang aku katakan..? ” maka Jibril menjawab : 

Bacalah : “ A'UDZU BI KALIMATILLAHI TAAMMATI MIN SYARRI MAA KHOLAQ WA DZAROA WA BAROA WA MIN SYARRI MA YANZIL MINAS SAMAAI WA MIN SYARRI MA YA'RUJU FIIHAA WA MIN SYARRI FITANIL LAILI WAN NAHAARI WA MIN SYARRI KULLI THORIQIN ILLAA THOORIQON YATHRUQU BI KHOIRIN YA ROHMAN

Artinya : Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan yang Dia ciptakan yang Dia buat dan yang Dia adakan dan dari kejelekan apa saja yang turun dari langit dan dari kejelekan apa saja yang naik pada-Nya, dan dari kejelekan fitnah pada malam dan siang hari kecuali yang datang dengan kebaikan Ya Rahman ( tuhan yang maha pengasih ).

( Selepas Rasulullah membaca do’a tersebut ) Abdurrahman berkata : “ Maka padamlah bara api yang dibawa setan dan Allah Tabaaroka Wata’ala menghancurkan mereka.” ( Sebagaimana dalam At Taghrib bahwa setiap dari isnadnya bagus, dan seperti dalam Al Muatha’ dari Yahya bin Said R.A dengan hadits yang “ Mursal ” )

Pastinya Allah SWT selalu menjaga para utusannya dari godaan setan itu, sehingga mereka tak mampu berbuat apa apa, melainkan kehancuran yang mereka dapatkan. Hendaknya kita semua juga tidak boleh berpaling dari mengharap perlindungan Allah SWT. 
Pada hakikatnya setiap orang beriman akan selalu mendapat perlindungan Allah SWT, asalkan tidak putus asa dari rahmat-Nya. 

Boleh jadi perlindungan itu berupa ketenteraman, kenyamanan, dan terjauhkan dari segala musibah yang mungkin akan menimpa kita semua. Ingatlah kembali, bahwa setan – setan tidak memiliki rasa putus asa untuk menggoda anak cucu Adam hingga hari kiamat kelak. Maka segerakanlah untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan perbanyaklah Dzikir –guna menjadi benteng dari setiap belenggu yang dibuat oleh setan.
Ditulis Oleh : Arbamedia  /  Rah. W

3 Cahaya Ini Muncul saat Pecahnya Batu Besar

Gambar: walldevil
Rasa semangat para sahabat Rasul tidak begitu gampang terpatahkan. Begitu pula saat mereka mempersiapkan diri dalam memperjuangkan ajaran Islam. Disaat terdesak menghadapi musuh, mereka senantiasa ikut bersama Rasulullah SAW  untuk membangun sebuah strategi. Terlebih ketika terjadinya perang Khandak, para sahabat tidak memiliki rasa malas dalam menyelesaikan penggalian parit –yang memang sudah ditugaskan bagi mereka.

Ada sebuah tragedi mengejutkan saat penggalian parit itu berlangsung. Lebih tepatnya, telah terdapat batu besar melintang yang tertanam di sekitar area penggalian. Sehingga hal itu cukup menghalangi para sahabat dalam menuntaskan tugas mereka. Akhirnya, peristiwa itu sampai ke Baginda Rasul, sehingga beliau memutuskan untuk membelah batu besar itu dengan tangan beliau sendiri.

Batu besar itu pun dibelah hingga hancur, akhirnya muncullah hal luar biasa yang ditunjukkan oleh Allah SWT, guna memperlihatkan sebuah Mukjizat yang dibawa oleh utusan-Nya itu. Yakni sebuah percikan cahaya yang terdapat dalam setiap belahan batu tersebut.

Berdasarkan sebuah Hadits dengan Sanad Jayyid, diriwayatkan oleh Imam Nasa’I dari Abi Sukainah r.a ( seorang lelaki dari Bani Muhar Arin ) dari Sahabat Rasulullah SAW, katanya : Saat Baginda Rasul SAW memerintahkan untuk menggali parit, batu besar telah menghalangi mereka. Lalu Nabi SAW berdiri mengambil cangkul, dan meletakkan selendangnya di pinggir parit seraya membaca Q.S. Al An’am : 115, yang artinya : 

“ Telah sempurnalah kalimat Rabbmu ( Al –Quran ) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah – ubah kalimat – kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ” 

Lalu batu tersebut terbelah sepertiga bagian. Ketika itu sahabat Salman Al – Farisi r.a berdiri dan melihatnya ( ke arah pecahan batu ), kemudian ( Salman melihat ) muncul cahaya menyertai satu pukulan Rasulullah, selanjutnya beliau memukul ( batu ) yang kedua kalinya, sembari beliau membaca lagi  Q.S Al-An’am ayat 115. Maka terbelah pula sepertiga bagian batu lainnya, ketika Salman memandang ke arah batu, ia melihat adanya kilat ( cahaya ) lagi. 

Peristiwa tersebut berulang tiga kali sampai terbelah sepertiga batu sisanya. Setelah itu, Rasulullah keluar, lalu mengambil selendangnya dan duduk. Kemudian Salman pun menghadap Rasulullah dan berkata : “ Wahai Rasulullah…! Aku melihat ketika engkau memukul, maka setiap pukulannya selalu disertai kilat. “

Baginda Rasul SAW bersabda : Wahai Salman..! Apakah kamu melihat seperti itu…? kemudian Salman menjawab : “ Ya, demi Dzat yang mengutus engkau dengan sesuatu yang hak, Wahai Rasulullah.”

Kemudian Baginda Rasul bersabda : “ Sesungguhnya ketika aku memukul ( batu ) satu pukulan yang awal, maka diangkatlah bagiku beberapa kota Kisra dan perkara yang terdapat di sekelilingnya ( kota – kota besarnya ), sehingga aku melihat dengan kedua mataku sendiri….”

Dalam rangka membuat sebuah benteng, kaum muslimin bersama baginda Rasul tidak berhenti dalam membuat sebuah lubang parit, untuk menyusun strategi perang. Ketika penggalian parit dihalangi oleh batu besar, maka di sinilah ditunjukkan oleh Allah SWT sebuah tanda kenabian Baginda Rasul SAW. Yaitu mengenai pengetahuan beliau akan pencapaian kemenangan bagi kaum muslimin di masa akan datang.

Maka terbuktilah apa yang telah dikabarkan, bahwa sepeninggal beliau kerajaan – kerajaan adikuasa yang disebutkan dalam Hadits tersebut, akhirnya mampu ditaklukkan oleh kaum muslimin. Sehingga perjuangan dakwah Islam pun menyebar hingga ke seluruh pelosok wilayah.
Ditulis Oleh: Arbamedia  /  Ar. M

Inilah Sosok Teladan yang Membuat Malaikat Malu

Gambar: Istimewa
Mengenai sikap kepada para sahabat dekatnya, tentu Baginda Rasul tahu tentang karakteristik mereka masing – masing. Layaknya Umar bin Khattab yang tegas pemberani, sahabat Utsman terkenal dengan kedermawanannya, Abu Bakar yang rendah hati dan lemah lembut, kemudian sahabat Ali bin Abi Thalib yang terkenal amanah, jujur dan tegas. Sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW, mereka semua sering bergaul bersama beliau –menjalin silaturrahim dan meminta bimbingan kepada beliau mengenai setiap prilaku keseharian.

Ketika di antara sahabat bertamu ke rumah Baginda Rasul untuk berbincang – bincang, sementara beliau bersama istrinya Aisyah r.ha, mereka pun masuk satu persatu. Sampai pada akhirnya telah dikabarkan oleh Rasulullah, satu sosok sahabat Nabi yang memiliki perilaku mengagumkan –hingga para malaikat pun turut malu saat bertemu dengannya. Siapakah Itu ?

Seperti yang kita kenal sahabat Rasulullah SAW yang memiliki sifat pemalu, yaitu Utsman bin Affan r.a. Hal demikian memang terdapat hadits yang telah menggambarkan mengenai sifat beliau. Dimana dalam sebuah riwayat, Nabi SAW bersabda :

 “ Orang paling memiliki kasih sayang di antara umatku adalah Abu bakar, Paling teguh dalam menjaga ajaran Allah yaitu Umar, yang paling pemalu adalah Utsman. ( H.R. Imam Ahmad, Ibnu Majjah, Al hakim, dan At Tirmidzi ) 

Sifat pemalu yang dimiliki Utsman r.a ternyata mampu membuat para malaikat menanggapinya. Dikisahkan dalam sebuah riwayat dari Aisyah r.ha, katanya : “ Nabi SAW telah berbaring di rumahku sambil menyingkap pahanya ( kedua betisnya ), kemudian datang Abu Bakar meminta izin ( untuk masuk ), lalu Nabi memberi izin kepadanya kemudian berbicara ( dalam keadaan seperti itu ). Kemudian ( datang ) Umar r.a meminta izin dan Nabi memberi izin kepadanya ( masih dalam keadaan seperti itu) kemudian berbicara. Lalu Utsman bin Affan meminta izin ( untuk masuk ), kemudian nabi SAW duduk dan menyamakan ( menutupi pakaian ) –nya. Lalu Utsman masuk kemudian berbincang – bincang ( dengan baginda Rasul ). 

Ketika Utsman sudah keluar, maka Aisyah bertanya kepada nabi : Wahai Rasulullah! Abu Bakar masuk engkau tidak kaget dan mempedulikannya, ketika Umar masuk engkau juga tidak kaget dan tidak mempedulikannya. Dan ketika Utsman masuk engkau duduk dan menutupi pakaian engkau. Sembari Rasulullah bersabda : “ Apakah aku tidak malu dari seseorang yang para Malaikat pun malu kepadanya ( Utsman ).” ( H.R Imam Muslim / Shahih sebagaimana dalam Ash-Shahihah )

Rasa pemalunya Utsman itu bisa diartikan dalam wujud perilaku kesopanannya, terlebih saat bertemu baginda Rasulullah sebagai pembawa risalah. Maka begitu pula Rasulullah menghargai sahabatnya itu, karena telah mencerminkan kehati-hatiannya dalam menerapkan perilaku keseharian. Rasa malu juga sebagian dari keimanan seseorang, karena dengan inilah akan bisa mendorong manusia untuk tidak berbuat keji terhadap sesama, disebabkan oleh rasa malunya untuk melakukan apa –apa yang dibenci oleh Allah SWT. 

Dalam sebuah riwayat juga pernah diceritakan dari Hasan r.a mengenai sifat Utsman yang pemalu ini, ia berkata : “ Bahkan ketika di dalam rumah yang pintunya digembok, Utsman r.a tidak pernah menanggalkan pakaiannya ketika menuangkan air ke badannya. Perasaan malunya tidak membiarkan ia untuk menegakkan punggungnya.”

Utsman malu karena tingginya ketaatannya kepada Allah SWT, sampai – sampai membuat para Malaikat pun ikut malu terhadapnya. Jadi, malu memang sebagai gambaran sifat kebaikan manusia. Demikian memang sesuai pesan sahabat Umar bin Khattab dari Aisyah r.ha : “ Wahai manusia, malulah kepada Allah yang Maha Suci. Apabila aku pergi ke tempat buang hajat, kepalaku menunduk karena malu kepada Allah yang Maha Agung dan Maha Tinggi. ”
Ditulis Oleh: Arbamedia  /  Rah. W

4 Ciri – Ciri Orang FAKIH Menurut Ali bin Abi Thalib

Gambar: twitter/headoff_kort
Orang fakih selalu menjaga ilmu Allah SWT, keberadaannya sangat penting untuk urusan penegakan risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kata fakih sendiri berarti paham mengenai ajaran agama islam. Maka orang fakih merupakan orang yang benar – benar ahli serta memahami akan tuntunan syariat islam. Tentunya kita semua wajib menuntut ilmu agama, karena dengannya kita dapat mencari jalan lurus, sesuai apa yang disebut – sebutkan Sang Ilahi dalam pembukaan kalamullah, yaitu “ Ihdina As Shiroto Al mustaqim ”. 
Terlihatnya kefakihan seseorang dapat kita amati dari segi prilaku, penjagaan, maupun cara belajar mereka mengenai ilmu keislaman. 

Sebagaimana telah dijelaskan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib r.a, bahwa orang fakih memiliki beberapa tanda. Mengenai penuturan sosok sahabat yang pernah disebut – sebut oleh Rasulullah sebagai kuncinya ilmu itu, maka kita bisa dengan mudah untuk berbenah diri ketika mencari ilmu, atau tanggapan kita terhadap sosok orang yang ingin mendalami ilmu syariat. 

Tidak jauh beda dari zaman perjuangan pada masa dimulainya penyebaran agama islam. Dulu, Baginda Rasul bersama para sahabat senantiasa taat serta menegakkan apa saja perintah - perintah Allah SWT. Sekarang ini juga terdapat Ahli ilmu agama ( Ulama’ ) sebagai pewarisnya, yang cenderung berhati – hati dalam mengambil keputusan ketika menghadapi sebuah persoalan. Para ulama’ memberikan fatwa tidak hanya dipandang satu sisi, mereka pastinya mengingat kembali akan semua aturan yang sudah ditetapkan –termasuk kefakihannya dalam bidang agama.

Lantas, apa saja ciri – ciri orang faqih menurut sahabat Ali r.a ?

1. Tidak Pernah Putus Asa dari Rahmat Allah
Pertanda orang fakih yang pertama, yaitu tidak pernah putus asa dari rahmat Allah SWT sebagai Dzat Penolong dan Pemberi segalanya. Jika orang terlalu merasa takut terhadap sesuatu, maka dapat berkemungkinan besar untuk meminta selain daripada-Nya. Memiliki perasaan putus asa dari rahmat-Nya dapat berarti merasa jauh dari pertolongan Allah SWT. Sehingga secara garis besar juga akan memutuskan semua permohonannya terhadap apa yang mereka takutkan dan harapkan. 

Sebaliknya, orang fakih tidak pernah putus asa dengan adanya semua itu. Karena mereka benar – benar memahami, bahwa kehidupan hanya bisa dijalani dengan mulus berkat keridhaan Sang Ilahi. Bahkan, ketika orang fakih sedang mengambil sebuah keputusan yang mungkin sulit baginya, mereka cenderung menentukan sebuah keputusan dengan mengutamakan keridhaan Allah semata. Mereka juga tidak pernah melebih – lebihkan rasa takutnya terhadap masalah yang dihadapi.

2. Tidak Pernah Toleransi Terhadap Perbuatan Maksiat
Tidak toleransi terhadap kemaksiatan bukan berarti harus bertindak kasar. Orang fakih juga memiliki ciri –tidak memiliki rasa toleran terhadap perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT tersebut. Namun tanggapan mengenai pengambilan tindakan mereka juga tidak terlalu berlebihan –hingga sampai menimbulkan madharat lebih besar. Dengan menggunakan teknik pengajaran ilmu agama yang mereka kuasai, merupakan cara lebih bijak untuk meluruskan serta mengurangi kemaksiatan di muka bumi. 

3. Tidak Merasa Amalnya Diterima Allah
Mengerti berbagai macam ilmu agama bukan berarti sudah terbilang seluruh amal diterima oleh Allah SWT. Tentunya setiap insan di Bumi tidak luput dari yang namanya khilaf bukan..? Karena sejatinya kita bukanlah sosok seorang yang maksum / terjaga dari kesalahan. Setiap ujian pun akan datang bertubi – tubi sampai kita terkadang salah dalam mengambil solusi, tentu disini kita harus kuat dalam menghadapinya. Maka dapat disimpulkan, setiap amal baik yang kita lakukan selama hidup di Dunia, tentu Sang Pencipta Alam sebagai Dzat yang menentukan –apakah amal kebaikan itu dapat diterima atau malah sebaliknya.

4. Belajar Al – Quran Disertai Tadabbur
Penghayatan terhadap seluruh isi beserta makna dalam kalamullah, sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang muslim untuk mempelajarinya. Ciri orang fakih juga demikian, mereka belajar Al –Quran tidak hanya sebatas diartikan dalam segi artinya menurut bahasa, tapi juga dibarengi dengan tadabbur. Kita tahu,  bahwa tingginya sastra dalam setiap ayat Al – quran tidak mudah dipecahkan begitu saja. Pemaknaan isi Al-quran juga harus dilihat dari berbagai sisi, seperti : Asbabun nuzul, Nasakh wa mansukh, Muhkamat dan Mutasyabihat, Makiyyah wa madaniyyah, I’robul Quran, pentashihan akan tafsir di dalamnya, dan masih banyak lagi. Dari situlah akan ketemu sebuah kebenaran maknanya, sehingga sosok orang fakih ketika membaca Al –Quran, ia akan menyertainya dengan perenungan yang begitu dalam.

Pertanda orang fakih di atas dirujuk berdasarkan riwayat  Abu Nu’aim sebagaimana dalam Al –hilyah ( 1 / 177 ), Ibnu Dharis, dan Ibnu Asakir dari sahabat Ali bin Abi Thalib r.a, beliau berkata : 

Ingatlah! Aku akan memberitahukan kepada kalian tentang orang yang benar - benar fakih. Yakni seorang yang tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah, orang yang tidak pernah toleran terhadap orang yang bermaksiat, orang yang tidak pernah memberikan rasa aman kepada orang yang tertipu terhadap Allah SWT, yaitu seseorang yang taat dan merasa amalnya diterima oleh Allah SWT padahal ditolak, orang yang tidak meninggalkan Al –Quran karena membenci dan berpaling kepada yang lain. Sedangkan tidak ada kebaikan dalam ibadah apabila tidak disertai dengan fiqih, dan tidak ada kebaikan dalam fiqih andai tidak ada pemahaman.” ( kanzul ummal : 5 / 231,  juga diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam jami’ bayanil Ilmi ( 2 /44 ) secara marfu’)
Ditulis Oleh : Arbamedia  /  Ar. M