Inilah Pengakuan 3 Orang yang Pernah Ditemui Malaikat

Gambar: videoblocks
Betapa besar karunia Allah SWT kepada kita semua, tapi begitu gampangnya kita melalaikannya. Ketahuilah bahwa atas izin dari Sang Ilahi, semua makhluk mampu terpenuhi kebutuhan mereka. Tidak pandang itu manusia, tumbuhan atau hewan selalu saja bisa hidup berkembang biak untuk menghiasi nuansa alam. Tapi mengapa masih banyak pula orang yang tidak mengingat rahmat dan kasih sayang Allah SWT tersebut?. Ketika susah, banyak orang memohon - mohon untuk diberikan kebaikan dan kemudahan dunia akhirat.

Tapi belum sampai ke titik kebahagiaan akhirat, banyak pula yang cenderung lalai untuk melakukan tanggung jawab mereka sebagai khalifah di bumi. Sama halnya kisah tiga pemuda Bani Israil kala itu yang sedang menderita kesusahan duniawi, ketika Allah SWT memberikan sebuah karunia amat mulia, diwaktu itu juga kedua diantara mereka menjadi lupa dan hatinya tertutup. Tapi satu diantara mereka patut dicontoh, karena tidak goyah meski kemewahan yang dimilikinya diminta kembali oleh Allah SWT sebagai ujian baginya. 
Kisah tersebut bermula dari adanya tiga pemuda dari bani Israil, satu diantaranya menderita penyakit sopak ( kulitnya belang – belang ), kemudian satunya lagi botak, dan yang terakhir dari mereka buta. Sewaktu ketika Allah SWT hendak memberikan ujian, sehingga mengutus malaikat untuk mendatangi mereka satu persatu.

Maka datanglah malaikat kepada orang sopak, kemudian bertanya : “ Keadaan bagaimanakah yang amat tercinta bagimu…? Orang sopak menjawab : “ Warna kulit yang bagus dan lenyaplah penyakit yang menyebabkan orang jijik kepadaku ”. Kemudian malaikat itu mengusapnya dan hilanglah semua kotoran pada tubuhnya, selanjutnya Allah SWT menjadikan warna kulitnya baik dan bagus. Malaikat itu bertanya lagi kepadanya : “ Jenis harta apakah yang amat kamu cintai..? maka ia menjawab : “Unta” ( dalam sebuah riwayat lain juga dikatakan lembu). Maka Allah SWT memberikan karunia berupa unta yang bunting kepadanya, sembari malaikat berdo’a : “ Semoga Allah SWT memberi keberkahan untukmu dalam unta ini.”

Seterusnya malaikat mendatangi orang botak dan bertanya : “ Keadaan bagaimanakah yang amat tercinta bagimu..?” orang botak menjawab : “ Rambut yang bagus, kiranya lenyaplah apa yang jadi penyebab orang jijik kepadaku.” Lalu malaikat pun mengusapnya dan hilanglah kebotakan itu, karena Allah SWT telah memberikan ia rambut yang bagus. Lalu malaikat kembali bertanya : “ Jenis harta apakah yang amat kamu cintai..?  ia menjawab : “Lembu”, maka ia telah dikaruniai lembu yang bunting. Kemudian malaikat berdoa : “ Semoga Allah SWT memberikan keberkahan untukmu pada lembu ini ”.

Terakhir malaikat mendatangi seorang yang buta, kemudian bertanya : “ Keadaan bagaimanakah yang amat tercinta bagimu…? ” orang buta itu menjawab : “ Sekiranya Allah SWT mengembalikan penglihatanku, sehingga aku dapat memandang semua orang ”, malaikat kemudian mengusapnya, maka Allah SWT telah mengembalikan penglihatan matanya. Selanjutnya malaikat bertanya lagi : “ Jenis harta apakah yang amat kamu sukai..? ” ia menjawab : “Kambing”, maka Allah SWT mengaruniai sebuah kambing bunting kepadanya dan malaikat pun juga turut berdoa kepadanya. 

Setelah ketiga pemuda itu diberikan Allah SWT banyak rizki dan karunia, Pada suatu ketika malaikat kembali datang dengan berpakaian serba buruk kepada orang yang dulunya terkena sopak dan berkata : “ Aku adalah orang miskin dan sudah terputus dari sebab – sebab untuk mendapatkan rizki saat dalam perjalanan, Sudi kiranya engkau memberikan rizki hanya sekadar untuk berbekal..? maka ia ( orang yang dulunya sopak ) menjawab : “ Kebutuhanku masih banyak sekali ” ( ia enggan untuk memberikan rizkinya kepada malaikat yang menyamar itu ). 

Maka malaikat itu berkata : “ Kelihatannya aku mengenalmu, bukankah engkau dulunya terkena sopak dan fakir, lalu Allah SWT memberikan karunia kepadamu..? ia menjawab : “ Semua harta ini merupakan warisan dari nenek moyangku.” Maka malaikat berkata : “ Jika kamu berdusta ( berbohong ) atas perkataanmu itu, maka pasti Allah SWT akan mengembalikan keadaanmu seperti dulu kala.

Selanjutnya malaikat itu menemui orang yang dulunya botak dan hina. Maka dengan perkataan yang sama pula orang sopak melakukan penolakan, alias tidak mau memberikan sebagian rizkinya. Maka malaikat itu mengatakan perihal yang sama terhadap orang botak yang diberikan karunia Allah tersebut, “ Jika kamu berdusta, maka Allah SWT akan mengembalikan keadaanmu seperti sediakala.” 

Malaikat pun menyamar lagi dan datang kepada orang yang dulunya buta dan menyedihkan, kemudian malaikat bertanya dengan maksud yang sama seperti diungkapkan kepada dua orang sebelumnya. Maka orang buta itu menjawab : “ Aku dulunya pernah menjadi orang buta kemudian Allah SWT telah mengembalikan penglihatan kepadaku. Maka sebab itu, ambillah mana saja yang engkau inginkan, dan tinggalkanlah apa saja yang engkau mau. Demi Allah, aku tidak akan menyulitkan dirimu, karena apa saja yang aku lakukan hanya untuk mengharap ridha Allah ‘’Azzawajalla.” Sembari malaikat pun tidak jadi mengambil hartanya, dan berkata : “ Sebenarnya kamu semua telah diuji, Sedangkan Allah SWT telah meridhaimu dan murka terhadap kedua sahabatmu ( yaitu orang sopak dan botak ).”

Kisah di atas dinukil dari hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah dari rawi keduanya, yaitu Imam Bukhari dan Muslim –dengan sanad shahih. Dari kisah di atas dapat ditarik sebuah hikmah, semoga Allah SWT senantiasa menjadikan kita semua menjadi orang yang selalu bersyukur. Tidak lupa terhadap segala apa pun yang telah dikaruniakan kepada kita, baik berupa harta, ketenteraman dan kenyaman dalam menjalani hidup di dunia. Artinya, apa saja yang kita miliki hanyalah amanat, sehingga harus menjalankan amanat itu dengan sebaik – sebaiknya. Ditulis Oleh : Arbamedia ( Ar.M )

Inilah Keutamaan Hari Tasyrik ( Hari Makan Dan Minum )

Gambar : muslimsincalgary
Usai melewati Idul Adha dengan penuh kebahagian, kini kita diingatkan kembali pada hari Tasyrik. Bertepatan pada tanggal 11, 12, 13 bulan Dzulhijjah, merupakan hari tanpa puasa, tidak seperti hari – hari sebelumnya yaitu hari tarwiyah dan arafah. Maka berdasarkan sabda Rasulullah SAW, sempat dijelaskan bahwa hari tasyrik merupakan hari makan dan minum. Ini artinya terdapat larangan untuk berpuasa di hari tersebut bukan..? maka sembari kita sambil menikmati hidangan yang lezat, jangan pernah melupakan bahwa hari tasyrik juga memiliki banyak keutamaan.

Fadhilah hari Tasyrik adakalanya masih terpaut dengan hari sebelumnya, yaitu hari raya Idul Adha. Meski demikian, selalu memupuk kebaikan di dunia, tentunya kiat yang perlu diterapkan yakni memperbanyak kebaikan itu sendiri terlebih pada hari yang diutamakan. Bahwasanya yang disebut kebaikan dunia ini lebih menusuk pada amalan – amalan yang diajarkan dalam tuntunan agama, beserta melakukan ibadah –ibadah fardhu maupun sunnah. Demikian agar kelak kita semua mendapat kebahagian akhirat yaitu surga. Amiiin.

Berikut beberapa keutamaan hari tasyrik yang perlu diketahui.

1. Hari Berdzikir
Memperbanyak dzikir kepada Allah SWT pada hari – hari tasyrik atau sebelumnya memang sangat dianjurkan, Baik itu berupa takbir, tahmid, dan berbagai bacaan dzikir yang lain terlebih seusai melaksanakan shalat fardhu lima waktu. Hal demikian juga tidak lepas dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW kala itu ketika mendapati hari – hari yang terbilang ( 3 hari setelah idul adha ). Maka memanjatkan kalimat – kalimat Agung ini tak hanya untuk menjernihkan hati dan pikiran kita, melainkan juga untuk memuliakan hari – hari yang diutamakan.

2. Tempat Meminta Kebaikan Dunia Akhirat
Siapa yang ingin mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Setidaknya kita tahu bahwa menjalani kehidupan di dunia, kiat manusia adalah mencari keuntungan menuju ke akhirat kelak. Sebagaiamana do’a Rasulullah SAW ketika datangnya hari tasyrik ini, maka beliau pun membaca do’a – do’a yang berkenaan dengan kebaikan dunia dan akhirat. Berdasarkan hadits diriwayatkan dari Annas bin Malik R.A, ia berkata :
 “ Bahwasanya do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi SAW yaitu Rabbanaa Aatinaa Fi dunya Hasanah Wa Fil Akhirati Hasahah, Wa Qinaa Adzaabannaar.” ( H.R Bukhari dan Muslim ).
Ini artinya bagi setiap orang muslim dianjurkan pula untuk memberbanyak membaca do’a tersebut, agar supaya Allah SWT selalu memberikan kebaikan baik di Dunia maupun di Akhirat kelak.

3. Hari Terkabulnya Do’a
Setiap orang mukmin akan selalu memanjatkan do’a kepada Allah SWT.  Tentunya pada tiap – tiap doa yang dibacakan selalu membawa maksud tersendiri. Semisal : doa untuk meminta pertolongan, agar dimudahkan dalam mencari rizki, agar selalu dikarunia rahmat-Nya di saat senang maupun duka. Pada hakikatnya terbukannya do’a tersebut hanya Allah yang menghendaki, namun berdoa pada waktu yang diutamakan merupakan langkah ikhtiar yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Pada hari tasyrik berlimpah keutamaan sebagai salah satu jalan keluar agar do’a itu mudah dikabulkan 

Sebagaimana dalam lathoif Al-ma’arif diterangkan sebuah riwayat dari Kinanah Al Qurasy, bahwasannya ia mendengar Abu Musa Al As’ari R.A berkhutbah di hari An Nahr ( Idul Adha ), dan berkata :
 “ Pada tiga hari setelah An – Nahr, itulah yang disebut oleh Allah SWT sebagai Ayyamul ma’dudat. Berdoa di hari tersebut tidak akan tertolak, maka berdoalah kamua semua dengan berharap kepada-Nya."
Tiga hari seusai Idul Adha yang dimaksud yaitu tangal 11, 12 dan 13 bulan Dzul hijjah, dimana pada hari tersebut penuh dengan keberkahan karena Allah SWT telah memuliakannya. Sehingga kita semua juga tidak boleh melewatkan untuk selalu memanjatkan do’a sebanyak – banyaknya bukan…?. Dan semoga kita tergolong menjadi orang yang mampu meraih semua keutamaan itu. Amin !

Ditulis Oleh : Rah. W / Arbamedia

Inilah Pelajaran Paling Berharga di balik Permainan Petak Umpet

image: nyoozee
Dunia anak kecil adalah dunia bermain. Di kampung-kampung permainan ini masih melekat di laku anak-anak, Mereka meriwayatkan hari-harinya dengan bermain bersama. Pola permainannya pun beragam dan unik-unik, mereka pun bemain di alam. Menyentuh tanah, bergabung dengan air, dan berbagai ketangkasan berada dalam permainannya. Bermain sambil belajar, itulah gaya anak-anak. Sementara yang dewasa bermain di dalam ruangan, bahkan enggan bermain lagi. Kita sempat melupakan konsep Ki Hajar Dewantara sebagai bapak Pendidikan, “Semua tempat adalah sekolah, dan semua orang adalah Guru” demikian kata Ki Hajar.

Kita pastinya mengenal permainan ini, permainan petak umpet. Tidak sekedar permainan tetapi pendidikan bagi si anak. Dengan pola permainan, lebih awal berkumpul bersama bahkan bisa dilakukan hanya dengan 2 orang. Kita mengambil perumpamaan 5 orang, pertama-tama mereka akan melakukan hom pim pa terlebih dahulu, bagi yang baru ikut melakukan permainan ini, proses alamiah anak akan mengajarkan temannya agar lekas tau, diberi tahu, sambil dipraktekkan. Ada proses komunikasi di dalamnya, sangat dekat antara teori dan praktek. 

Terlebih dahulu lagi, anak-anak akan membuat lingkaran, masing-masing mengulur dan menumpukkan tangan. Kenapa anak kecil sangat dekat dan sangat gampang akrab?, dikarenakan mereka bersentuhan, sentuhan-demi sentuhan membuat mereka dekat dan lekat. Refleks dengan nada yang beragam, tangan-tangan yang tertumpuk tadi di dalam lingkaran sembari di goyang-goyangkan. Seperti gelombang yang naik-turun, mengikuti mantra ‘’Hom pim pa alai hom gambreng’’,. Tangan-tangan itu akan lekas terbolak-balik sesuai dengan keinginan, jika yang terpilih sebagai contoh 3 besar orang yang menunjukkan punggung tangan, maka yang memilih telapak tangan akan kembali beradu. Dasar permainan hom pim pa  ini mengajarkan kepada anak untuk menerima kesepakatan.

Dua orang yang memilih telapak tangan akan kembali beradu, bukan hom pim pa lagi, tetapi pus pus. Simbol gunting pada jari tangan akan menggunting kertas, jika ada 5 jari teman melebar, berarti pemenangnya yang memilih gunting. sementara tangan yang digenggam berarti simbol batu, akan dikalahkan oleh kertas, sebab kertas bisa membungkus batu. Gunting akan kalah dengan batu, sebab gunting tak kan bisa menggunting batu. Ada obrolan dalam permainan ini, yang baru melakukan permainan ini sesama anak kecil akan melakukan logika-logika sederhana, sebagaimana yang disebutkan di atas. Yang kalah dalam permainan ini, maka akan menjadi “jadinya” atau si pencari.

Tanpa menunggu lama, yang “jadi” akan menghitung 1-10 dengan menutup mata sambil bersandar ke tembok. Tiang rumah atau pohon sebagai keabsahan jika si “pencari” benar-benar tidak melihat keempat temannya yang akan bersembunyi. Dengan girang, mereka berlari-lari setelah itu diam senyap. Permainan ini melahirkan sikap gentleman, menyepakati aturan permainan dan bertanggung jawab. 

Yang “jadi”, setelah hitungan genap sampai 10 kemudian berbalik dia tidak akan melihat temannya lagi, di sinilah puncak permainan di mulai. Teman-temannya telah bersembunyi di suatu tempat, Yang “jadi” akan mengalami sedikit tekanan psikologi, belajar kehilangan, Dari yang ada tiba-tiba menghilang, dari yang ramai tiba-tiba sunyi. Keadaannya kini sendiri, dia akan berjalan dengan hati-hati. Jika tanpa diketahui, Ada satu teman yang berhasil menyentuh teman yang ‘’jadi’’, maka ia akan kembali menjadi “jadinya”. Dalam kehilangan, ada ke hati-hatian, ada tanggung jawab, ada gejolak juga ada fokus. Sungguh menarik sekali .. ..

Dalam pencaharian, di seputaran rumah atau di lingkungan kampung pencaharian, yang “jadi” akan berjalan terbata-bata, hati-hati sejenak akan mengambil jarak di setiap suara yang dianggapnya mencurigakan. Anak-anak belajar taktik serta sigap. Bagi yang ditemukan sebagai contoh “temu Rina”, untuk pertama kalinya biasanya si Rina tetap melakukan upaya untuk menyentuh yang “jadi”. Bahkan dalam kelihaian, biasanya yang dicari secara spontan melakukan kerjasama, Rina terus melakukan pengalihan berharap yang “jadi” kepalang kabut. Jika suasana terus riuh dan si “jadi” tak sigap, maka yang lainnya akan bermunculan berupaya menyentuh, agar si “jadi” kembali menjadi “jadinya” atau bertugas mencari kembali. Menyentuh si ”jadi”merupakan sebuah kemenangan, meski hanya satu orang yang berhasil, namun akan menjadi kemenangan bersama. Bila si pencari berhasil tanpa sentuhan, maka Rina lah penggantinya.

Permainan ini bernilai sangat positif bagi anak, latihan mental, latihan ketangguhan, serta belajar kehilangan meski ada. Esok hari saat mereka kehilangan, mereka tak lantas menjadi manusia-manusia yang gampang rapuh, sebab mentalnya telah diasah dari permainan petak umpet. Sayangnya sebagian orang tua akan risih dengan permainan anak-anak ini, menganggap permainan ini membuat riuh dalam rumah atau lingkungan. 

Terlebih lagi anak-anak dimarahi, diminta untuk berhenti bermain, karena dianggap mengganggu ketenangan. Secara logika, Orang tua yang demikian secara tak langsung ikut andil menghentikan proses belajar si anak. Namun, Alangkah lebih bahagianya melihat anak-anak aktif bermain sambil belajar, dari pada melihat mereka terbaring karena sakit. Biarkan mereka bermain sambil belajar, berkreasi, selama dalam kondisi lingkungan yang terjaga, serta waktu yang terkontrol.

Penulis : Acca / Arbamedia

Hari Raya Idul Adha 2017, Raihlah Hikmah dan Keutamaan Dahsyat Ini

Gambar: dekhnews
Hari raya Idul Adha pada tahun 2017 kali ini, akan datang tepat pada hari Jumat tanggal 1 September berdasarkan hitungan kalender masehi. Kedatangan hari raya kurban tersebut sebenarnya telah lama menjadi perayaan besar bagi umat Islam. Mengingat kisah Nabi Ismail ‘alahissalam yang memiliki ketaatan luhur kepada kedua orang tuanya, yaitu Nabi Ibrahim A.S ( ayahnya ) dan Siti hajar ( ibunya ). Yang mana sewaktu ketika Nabi Ismail harus ridho untuk mengorbankan dirinya guna memenuhi perintah Allah SWT. Perintah itu datang dikabarkan lewat mimpi sang Ayah, atas seruan dari Allah SWT –agar Nabi Ibrahim segera memenuhi nadzar-nya, yaitu berkenan menyembelih anaknya bernama Ismail.

Padahal beliau amat sayang dengan putranya tersebut, apalagi kala itu Ismail kecil masih berumur 7 tahun. Tapi karena itu semua adalah perintah Allah SWT, akhirnya pengorbanan tetap dilakukan dengan dasar ketaatan. Tidak ada rasa nikmat sedikit pun jika tidak menaati perintah dari Sang pencipta alam semesta. Karena itulah dibalik sebuah ujian berat itu, akhirnya Allah SWT telah mengganti Ismail dengan satu ekor domba, yang sampai hari  ini kita peringati dengan sebutan Hari Raya Kurban / Idul Adha.  Dimana setiap orang muslim dianjurkan untuk berkurban dengan menyembelih hewan peliharaan berupa kambing, sapi, dan domba, sebagaimana tuntunan / risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Semuanya itu pasti terdapat hikmah dan keutamaan jika kita ikut serta memuliakannya bukan…? Tidak hanya mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim A.S, tapi berikut adalah beberapa hikmah maupun keutamaan yang dapat kita ambil atas kedatangan hari raya Idul Adha.

1. Saling Berbagi Rizki
Hari raya Idul Adha menjadi hari kebahagiaan bagi seluruh umat Islam di dunia. Karena disini kita akan saling membagi – bagikan rizki, yakni berupa daging hasil sembelihan hewan kurban secara merata. Bagi setiap orang yang menerima daging kurban tentunya mereka sangat senang. Begitu pula bagi Shahibul Kurban, mereka akan mendapatkan rezeki berlipat ganda sesuai janji Allah SWT di dalam firman-Nya.

2. Berkurban Jadi Jalan Ketaqwaan
Mungkin saja sebelumnya kita merasa kesulitan untuk memiliki ketaqwaan tinggi kepada Allah SWT, semisal : Sulit meninggalkan larangan-Nya, dan merasa hati gundah gelisah karena sering kali meninggalkan perintah-Nya. Maka hari raya Idul Adha memberi keutamaan untuk menghadapi permasalahan tersebut. Dalam Q.S. Al Hajj ayat 37, Allah SWT berfirman : 

“ Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. ”

3. Mendapat Pahala Berlipat Ganda
Sungguh betapa besar ganjaran yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang yang mau meluangkan untuk berkurban. Bahkan dalam sesuatu dari hewan yang dikurbankan itu, tidaklah terbuang karena akan digantikan dengan pahala besar di sisi-Nya. Hal demikian memang didasarkan atas kabar gembira yang disabdakan oleh Rasulullah SAW –dalam hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah R.huma :

“ Pada setiap lembar bulunya ( hewan kurban ) itu kita memperoleh satu kebaikan. ”

Bukan hanya itu, bahkan dalam sebuah riwayat Imam Abul Qasim Al Ashbahani, dari Sahabat Ali bin Abi Thalib R.A, bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Fatimah R.Ha :

“ Wahai Fatimah, bangkitlah dan saksikan penyembelihan binatang kurbanmu, Sesungguhnya bagimu pada awal tetesan darah binatang itu sebagai pengampunan untuk setiap dosa, ketahuilah kelak dia akan didatangkan (di hari akhirat) dengan daging dan darahnya dan diletakkan di atas timbangan kebaikanmu 70 kali lipat “.

4. Dijauhkan Dari Neraka
Tiada henti-hentinya Allah SWT memberikan keutamaan, terlebih bagi siapa saja orang yang berkurban dengan penuh keikhlasan. Dimana pengorbanan itu semata – mata diberikan atas dasar ketaatan dengan rasa penuh kegembiraan, maka kelak Allah SWT akan menjaga mereka semua dari siksaan api neraka. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Al – Husein bin Ali, bahwa Rasulullah SAW bersabda : 

“ Barang siapa berkurban dengan lapang dada (senang hati) dan ikhlas hanya mengharap pahala dari Allah, maka dia akan diHijab dari neraka “ ( H.R At Thabrani )

5. Pintu Penyelamatan Dunia Akhirat
Mempersiapkan hewan penyembelihan pada hari raya Idul Adha, ternyata terdapat pula hikmah yang didapatkan. Kita akan didekatkan dengan rasa sosial yang tinggi, dimana hal itu akan menjauhkan dari semua rasa terlalu cinta terhadap perkara duniawi. Perlu diketahui bahwa terlalu cinta terhadap dunia, juga akan berdampak pada kerusakan moral. Karena mampu membutakan rasa saling mengasihi terhadap sesama atau orang yang membutuhkan. 

Dengan berkurban pada tanggal 10 Dzulhijjah, maka akan membuat kita menjadi lebih mengerti betapa bahagianya jika kita memiliki rasa sosial tinggi. Selain itu keutamaan pahala berlipat ganda tentunya akan menjadi tabungan di akhirat kelak.

6. Mengenang Kepatuhan Nabi Ibrahim A.S
Pada hari raya Idul Adha, pastinya terkenang kembali betapa besar ketaatan dan kepatuhan Nabi Ibrahim Alaissalam atas perintah – perintah Allah SWT. Sehingga ia telah berhasil menjalankannya dengan baik. Maka disini paling tidak dapat mencontoh perilaku beliau, yang tak menoleh sedikit pun dari apa yang ditugaskan Allah SWT –meski perintah tersebut amat berat baginya. 

7. Berkurban Menjadi Kendaraan Akhirat
Hari raya Idul Adha mampu mendatangkan keutamaan khususnya bagi Shahibul Kurban, yaitu sebuah kendaraan di akhirat kelak. Dimana kendaraan itu akan mempermudahkannya kelak, guna melawati sebuah jembatan menuju surga. Dalam sebuah hadits diriwayatkan oleh Ibnu Rif’ah R.A, bahwa Nabi SAW bersabda : 

“ Perbesarlah kurban – kurban  kalian, karena qurban itu ( nantinya ) akan menjadi kendaraan-kendaraan dalam melewati jembatan As Shirat ( jembatan di atas neraka jahanam yang menghubungkan pintu surga ) menuju surga. ”

Itulah semua hikmah dan keutamaan hari raya Idul Adha yang tidak boleh dilewatkan. Maka dengan kedatangannya, semoga dapat meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita kepada Allah SWT.
Baca : Beginilah Niat, Waktu Dan Tata Cara Shalat Idul Adha

Ditulis Oleh : Arbamedia  /  Ar.M

Ketahui Tata Cara, Niat dan Waktu Shalat Idul Adha

Gambar: thoughtco
Hukum pelaksanaan shalat Idul Adha berdasarkan ketentuan yang telah disepakati oleh para Ulama’ yaitu Sunnah Muakkadah. Meski ada pula sebagian dari pendapat yang menghukumi bahwa mengerjakannya adalah sebuah kewajiban. Lebih menariknya, bagi setiap orang mukmin pasti sangat menanti-nantikan untuk shalat di hari besar ini bukan….? Shalat Idul Adha, termasuk ibadah mulia yang tak lepas dari hati para kaum muslimin. Berbanding lurus dengan keindahan sebelumnya, dimana kita semua tentu sudah mengerjakan sholat Idul Fitri. Kini alangkah baiknya juga mempersiapkan diri untuk merayakan hari besar Islam episode selanjutnya, yaitu Idul Adha. 

Menghiasinya dengan membaca takbir bersama - sama, menunaikan shalat, merampungkan penyembelihan hewan kurban, semua itu akan jadi penyejuk hati yang tak ternilai harganya. Bagaimana kalau kita masih bingung dalam hal pelaksanaan shalat Idul Adha..? kemudian bagaimana niat dan kapan waktu yang tepat untuk mengerjakannya...?

Jangan khawatir, mulailah menengok kembali tentang apa yang telah disyari’atkan berdasarkan tuntunan agama. Tidak berbeda jauh dengan pelaksanaan shalat Idul Fitri, jika ingin melakukan shalat Idul Adha, berikut beberapa hal yang perlu kita ketahui :

1. Tempat & Waktu Shalat Idul Adha
Shalat Idul Adha dikerjakan pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah, mulai terbitnya matahari kira – kira setinggi tombak, sampai tibanya waktu Zawwal ( tergelincirnya matahari ). Untuk tempat pelaksanaannya, disunnahkan berada di tanah lapang, atau lapangan terbuka di luar masjid –sekiranya dapat menampung banyak orang.

Demikian itu merupakan sebuah tauladan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW beserta para sahabat beliau. Dalam sebuah hadits diriwayatkan dari Abu Sa’id Al –khudri R.A, dia berkata : 

‘’ Rasulullah SAW keluar pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha ( untuk melakukan shalat ) menuju tanah lapang. Maka pertama kali yang beliau lakukan adalah shalat ’Ied, kemudian setelah beliau selesai ( shalat ) beliau berdiri (untuk berkhotbah) di hadapan kaum muslimin dan mereka ( tetap ) duduk di shaf-shaf mereka ‘’. ( H.R. Bukhari dan Muslim )

2. Tata Cara untuk Shalat Idul Adha
Shalat Idul Adha dilakukan sebanyak dua rakat dengan tata cara sebagai berikut :

a. Membaca Niat
Dalam menjalankan shalat Idul Adha, sebelumnya kita harus menata niat. Sementara untuk bacaan niatnya sebagai berikut :

أُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ سُنَّةَ لعِيْدِ اْلأَضْحَى (مَأْمُوْمًا\إِمَامًا) لِلّهِ تَعَــــــــالَى  
Artinya: “ Aku berniat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta’ala. ”

b. Takbiratul Ihram 
Melakukan takbir pertama pada awal permulaan shalat  disertai niat (dalam hati) untuk shalat Idul Adha

c. Membaca do’a iftitah sebagaimana biasa dilakukan pada bacaan shalat biasanya

d. Membaca takbir ( disebut takbir Zawaid ). Yaitu 7  kali pada rakaat pertama, dan 5 kali pada rakaat kedua

Hal tersebut memang merujuk pada hadits Nabi, sebagaimana Rasulullah SAW menyerukan untuk takbir sebanyak tujuh kali ( pada rakaat pertama ), dan 5 kali ( rakaat kedua ) pada pelaksanaan shalat Idul Fitri sebelumnya. Dari sahabat Amr bin Syu'aib dari ayahnya, dari kakeknya R.Hum, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :

 " Takbir di shalat Idul Fitri tujuh kali di rakaat pertama dan lima kali di rakaat yang kedua. Dan membaca ayat Al-Quran sesudah takbir pada keduanya” (HR Abu Daud ( 1018 ), sebagaimana dalam Shahih Sunan Abu Daud ).

Kemudian diperbolehkan pula mengangkat tangan saat takbir zawaid, sebagaimana dicontohkan oleh Ibnu Umar R.A, berdasarkan penjelasan ibnu Qoyyim dalam Al-Atsram : 151, “ Bahwasanya Ibnu Umar yang dikenal sangat meneladani Rasulullah SAW, mengangkat tangannya dalam setiap takbir ”. Namun ada pula yang tidak memperbolehkan mengangkat tangan, sebagaimana pendapat Imam Abu Hanifah dan Al Bhani, karena dianggap tidak ada riwayat hadits yang shahih. 

e. Membaca dzikir di sela – sela takbir zawaid
Berdasarkan hadits riwayat dari Ibnu Mas’ud dikatakan  : “ Di antara tiap – tiap takbir, hendaknya menyanjung dan memuji Allah SWT ”. Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dan menurut Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid bahwa sanad hadits kuat. 

Oleh karena itu, menurut pendapat Imam As-Syafi’I dan Imam Abu Hanifah mensunnahkan membaca dzikir dianatara takbir dengan menggunakan lafadz yang tidak ditentukan. Tapi sebagian pendapat ada yang tidak mensunnahkannya seperti Imam Malik dan Auza’I, karena dianggap tidak ada keterangan dari Rasulullah SAW yang menyatakan hal itu.
Untuk bacaan dzikir yaitu  : 

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Artinya: “ Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar. ”

f. Membaca surat Al – fatihah

g. Membaca sebagian surat dalam Al –Quran
Selanjutnya, mengenai bacaan ruku’, I’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud dalam shalat Idul Adha, sama dengan gerakan shalat biasanya. Kemudian kembali berdiri untuk melakukan rakaat kedua dengan diawali kembali takbir sebanyak 5 kali, dan seterusnya sampai salam. Terakhir disunnahkan untuk mendengarkan khotbah hingga selesai.
Ditulis Oleh : Rah. W  /  Arbamedia